Penulis Muda Palestina - Kasih PalestinaBerita

Pemuda Palestina Terima Penghargaan “Hadiah Penulis Muda” dari Uni Eropa 

Kasihpalestina.com – Palestina kembali menginspirasi. Kali ini, sebuah prestasi ditoreh oleh pemuda berdarah Palestina yang memenangkan Hadiah Penulis Muda dari MedReset, sebuah proyek yang didanai oleh Uni Eropa.

Omar Shanti, pemuda berusia 23 tahun ini merupakan lulusan Universitas Northwestern di Illinois, Amerika Serikat (AS), pada tahun 2018, dengan gelar dalam bidang ilmu komputer, ekonomi, serta studi Timur Tengah dan Afrika Utara. Dirinya lahir di Inggris dari orang tua berdarah Palestina, sebelum tinggal untuk beberapa waktu di Uni Emirat Arab.

Omar diberi penghargaan Hadiah Penulis Muda awal pekan lalu, dengan penghargaan yang dipersembahkan oleh Federica Mogherini, Perwakilan Tinggi Uni Eropa untuk Urusan Luar Negeri dan Kebijakan Keamanan dan Wakil Presiden Dewan Eropa.

Ketika menerima penghargaan tersebut, Omar yang berterima kasih pada Uni Eropa atas kesempatan untuk berbicara dalam konferensi, mengatakan: “Saya ingin mengakui profesor universitas saya […] ibu saya yang hadir hari ini, tanpa siapa pun tidak ada yang mungkin, dan pengaruh akademik saya yang terbesar, [cendekiawan Palestina] Edward Said, atas ketelitian, kelancaran berbicara, dan keadabannya – juga upaya kemanusiaan yang tidak kenal menyerah – telah memberikan model untuk angka yang jauh lebih besar daripada saya.”

Baca Juga: Potret Anak Palestina: Tetap Bahagia dan Mengukir Prestasi di Dunia

Omar berbicara panjang lebar mengenai karangannya (paper) yang diberi penghargaan tersebut – “El Haraga” Membaca Melalui Produksi Sastra Maghrebi – yang menurutnya, mengeksplorasi “bagaimana migrasi diam-diam melintasi Selat Gibraltar direpresentasikan dalam sebuah contoh kecil di fiksi Maghrebi yang terbaru”. Maghrebi terdiri dari Tunisia, Algeria, dan Maroko.

Dirinya menjelaskan bahwa dengan mengeksplorasi tema migrasi dan identitas Maghrebi, karangannya diharapkan dapat menantang representasi dominan imigran Maghreb dan para pengungsi, yang telah berkembang setelah krisis migran yang disebut Eropa, yang telah melihat ribuan kesempatan untuk melintasi Laut Mediterania sejak 2013. Ia berharap dapat mengeksplorasi faktor-faktor tersebut “yang tidak hanya membuat manusia menjadi migran tetapi juga membuat migran menjadi manusia”, tambahnya.

Omar juga menempatkan karangannya dalam konteks hubungan Palestina-Maghreb. Dalam menyimpulkan pidato penerimaannya, ia menjelaskan:

“Saya harap bahwa ini dapat dilihat sebagai isyarat cinta yang tulus dari seorang warga Palestina, dalam diri saya… Saya tidak berpikir bahwa ada yang lebih penting daripada dukungan luar biasa dan cinta yang warga Palestina terima dari Maghreb.” (kimikim/kasihpalestina)

*Arab Maghrib atau Maghreb merujuk pada lima negara di Afrika Utara. Maghreb merupakan istilah dalam bahasa Arab, yang berarti “tempat matahari terbenam” atau “barat”. Istilah ini kini merujuk pada Maroko, Aljazair, Tunisia, Libya, Mauritania, dan wilayah sengketa Sahara Barat. (Wikipedia)

Sumber. Middle East Monitor

Rekening Donasi: BSM 1001 2016 2 6 (a.n Kasih Palestina)

Call Center (konfirmasi & informasi lanjutan): 08123 2011 55

Ramadan Bersatu untuk Palestina - Kasih PalestinaBerita

Ramadan Menyatukan Kita