Tantangan ketika Anak Gaza Sakit

574 Dilihat 21 Maret 2020 07:33 By: Admin

Yang terjadi saat anak-anak Gaza adalah sulitnya mendapatkan izin pengobatan di luar wilayah. Walau ada yang berhasil melakukannya, sering kali penjajah juga melarang orang tua mendampingi anak-anak mereka.

Kasihpalestina.com – Apa perlu ada ungkapan bahwa anak-anak di Gaza tidak boleh sakit? Hal ini tidak sembarang diucapkan. Karena pemblokadean Israel, anak-anak secara tidak langsung dituntut untuk tetap sehat. Jika pada akhirnya sakit, lantas apa yang terjadi? Mari simak ulasan Kasih Palestina – lembaga donasi peduli Palestina – berikut ini.

Baca Juga: Bagaimana Krisis Bahan Bakar Pengaruhi Sektor Kesehatan di Gaza?

Tantangan pertama ketika anak-anak Gaza sakit adalah perjalanan menuju rumah sakit yang tidaklah dekat. Setelah sampai, kadang prosesnya pun tidak mudah. Jika anak itu menderita penyakit berat, opsi terakhir adalah dipindahkan ke rumah sakit di luar wilayah – karena fasilitas yang tidak memadai.

Apakah selesai sampai di situ? Tidak. Hal pertama yang harus dilakukan adalah mengajukan izin kepada para penjajah untuk keluar wilayah. Akan tetapi, sebagian besar kasus membuktikan bahwa mendapatkan izin pun sering kali dipersulit oleh penjajah.

Meski pada akhirnya anak tersebut mendapatkan izin, sering kali orang tua tidak bisa ikut untuk mendampingi – karena izin yang tidak diberikan. Laporan terbaru yang dikeluarkan oleh Physician for Human Rights juga menunjukkan jumlah yang cukup tinggi, terkait pelarangan pendampingan oleh orang tua untuk pasien anak-anak di luar Gaza.

Yuk, Bantu Anak Gaza Bersama Lembaga Kasih Palestina!

Sementara itu, Oren Lehek selaku psikolog medis menegaskan pentingnya orang tua untuk mendampingi anak mereka – ketika berkaitan dengan proses menjalani pengobatan.

“Anak yang sakit memerlukan orang tua mereka agar tidak merasa asing, juga demi mencegah terjadinya tekanan mental – akibat ketidakhadiran orang tua.”

“Selain itu, untuk mempercepat pemulihan (secara fisik maupun mental) dan kembali ke rutinitas,” ungkapnya

Pada akhirnya, akibat dari adanya pelarangan oleh penjajah, banyak anak yang harus berjuang sendiri dalam melawan penyakitnya, seperti kanker. Tidak sedikit pula yang berakhir dengan kehilangan nyawa, karena tidak mampu lagi berjuang seorang diri.

 

Miral Abu Amsha, bocah Gaza yang meninggal karena penyakit leukimia. (Sumber. Haaretz)

Salah satunya seperti yang dialami oleh Miral Abu Amsha, bocah 10 tahun asal Gaza yang harus berobat di luar wilayah tanpa orang tua, dan belum lama ini meninggal dunia.

Miral hanya satu dari banyak anak yang merasakan tantangan serupa. Sebuah realitas yang sangat disayangkan. Semoga pemblokadean segera berakhir, sehingga anak-anak kembali mendapatkan haknya terutama saat mereka sakit, dan memerlukan dukungan besar dari orang tua mereka. (kimikim/kasihpalestina)

 

*Diambil dari Beberapa Sumber

Bagikan Artikel

Kampanye

Ikut Bangun Sumur Bor di Gaza, Alirkan Pahala Jariah Anda

Kasih Qurban, Bukti Cinta Kita untuk Palestina

Idul Adha adalah waktu terbaik untuk berlomba-lomba buktikan cinta kita kepada Palestina. Sekerat daging qurban dari kita, nyalakan semangat perjuangan mereka.

...

Donasi Sekarang

Terimakasih sudah berkunjung, untuk konfirmasi & pertanyaan bisa langsung ke admin kami dibawah ini.