Energi Terbarukan Bantu Atasi Krisis Listrik Palestina

320 Dilihat 14 Oktober 2020 14:19 By: Admin

Penduduk Palestina coba atasi  krisis listrik Palestina dengan energi terbarukan

kasihpalestina.com - Pasokan listrik Palestina kian terbatas. Hal ini memperparah krisis listrik Palestina yang telah berlangsung bertahun-tahun lamanya.  Penduduk Palestina pun memutar otak, mencari cara penuhi energi listrik dengan alternatif lain. Bagaimana penduduk berupaya penuhi energi listrik ini? Kasih Palestina, lembaga donasi Palestina sajikan informasi selengkapnya untuk anda.

 

Ketergantungan Energi Impor

(Krisis listrik Palestina telah berlangsung bertahun-tahun lamanya/Sumber: EcoMENA)

 

Krisis listrik Palestina yang telah berlangsung lama adalah imbas dari penjajahan yang tak henti-hentinya dilakukan. Untuk mencukupi kebutuhan listrik Palestina, pemerintah setempat harus melakukan impor energi. Hal ini menyebabkan penduduk Palestina memiliki ketergantungan yang besar terhadap energi dari negara lain.

Kebutuhan akan energi semakin tak terjangkau oleh penduduk Palestina, karena kemiskinan dan pengangguran yang tak juga mereda. Ironisnya biaya bahan bakar di Palestina juga merupakan yang paling tertinggi, dibandingkan dengan negara-negara lainnya di satu kawasan. Sektor listrik di Palestina harus mengimpor sekitar 88% dari Israel, sedangkan 3% lainnya disuplai dari Yordania dan Mesir.

 

Baca Juga: Bantu Palestina Kini Cukup Satu Jari

 

Energi Terbarukan Dapat Bantu Suplai Kebutuhan Listrik Penduduk

(Kamal al-Jebrini (kiri) dari Palestina memegang segenggam kotoran sapi di peternakan sapi perah Jebrini di kota Hebron, Tepi Barat, kotoran itu digunakan untuk menghasilkan listrik sebagai sumber tenaga alternatif/Sumber: Al Monitor)

 

Kendati kebutuhan energi begitu besar, serta kesenjangan ekonomi yang terjadi di Palestina. Masih ada harapan dari potensi energi terbarukan yang dimiliki Palestina. Sumber daya energi terbarukan di Palestina berasal dari sinar matahari, panas bumi dan biomassa.

Palestina memiliki potensi energi sinar surya dengan rata-rata radiasi matahari harian sebesar 5,4 kWh/ meter persegi atau setara juga dengan 3.000 jam sinar matahari dalam setahun. Jika dapat dioptimalkan dengan maksimal, energi matahari ini dapat membantu mencukupi kebutuhan listrik rumah tangga, pemompaan air dan aliran listrik Palestina untuk pedesaan.

 

Baca Juga: Belajar “Gelap Gulita” Ala Anak Palestina

 

Energi panas bumi atau geothermal juga menjadi salah satu potensi yang dimiliki Palestina. Adanya perbedaan suhu yang cukup signifikan ketika musim panas dan musim dingin, membuat salah satu perusahaan di Palestina memanfaatkan ini sebagai energi untuk menjalankan sistem pemanas dan pendingin ruangan.

Potensi limbah dari peternakan dan pertanian di Palestina, juga dapat menjadi salah satu energi alternatif yang digunakan penduduk Palestina. Jika potensi limbah Palestina ini diolah dan dimaksimalkan dengan baik, maka dapat membantu 15% kebutuhan pasokan energi dan listrik Palestina. (itari/kasihpalestina)

Sumber: EcoMENA

 

Hingga hari ini, pengolahan potensi energi terbarukan di Palestina belum sepenuhnya dapat terlaksanakan, akibat penjajahan yang masih berlangsung. Minimnya pasokan listrik Palestina, semakin memicu krisis listrik Palestina yang semakin parah. Sahabat, kita dapat membantu atasi krisis listrik Palestina, melalui program Teriangi Palestina. klik di sini, untuk informasi selengkapnya.

 

Sahabat juga dapat menyalurkan donasi terbaiknya melalui:

Mandiri 131 00 3618 18 18

a.n Yayasan Kasih Palestina

 

Informasi dan Konfirmasi donasi:

CS Donasi Online: 0878 3864 8049, atau

Call Center: 08 123 2011 55

Bagikan Artikel

Kampanye

Wakaf Sumur Bor di Gaza, Alirkan Pahala Jariah Anda

Kasih Qurban, Bukti Cinta Kita untuk Palestina

Idul Adha adalah waktu terbaik untuk berlomba-lomba buktikan cinta kita kepada Palestina. Sekerat daging qurban dari kita, nyalakan semangat perjuangan mereka.

...

Donasi Sekarang

Terimakasih sudah berkunjung, untuk konfirmasi & pertanyaan bisa langsung ke admin kami dibawah ini.