Dampak-Dampak Kemanusiaan Akibat Pemblokadean di Gaza

145 Dilihat 20 Maret 2020 19:00 By: Admin

Pemblokadean yang Israel lakukan di Gaza telah memengaruhi sejumlah sektor kemanusiaan, salah satunya menimpa sektor ekonomi.

Kasihpalestina.com – Adanya penjajahan sekaligus pemblokadean Israel di wilayah Jalur Gaza, telah menimbulkan dampak-dampak yang sangat buruk. Diibaratkan, eksistensi penjajah bisa sampai mengatur di mana warga harus tinggal dan menuntut ilmu, hingga dengan siapa pribumi itu bisa menikah. Lantas, permasalahan apa saja yang terjadi khususnya terhadap sektor-sektor kemanusiaan? Simak ulasan Kasih Palestina – lembaga donasi peduli Palestina – berikut ini.

Baca Juga: Wilayah Jalur Gaza Alami Krisis Gas

 

Efek Domino Permasalahan Sektor-Sektor Kemanusiaan

Pemblokadean artinya proses pengepungan suatu daerah (atau negara), sehingga orang, barang, kapal, dan sebagainya, tidak dapat keluar masuk secara bebas. Ini juga berarti, apa yang Israel lakukan terhadap wilayah, sama halnya dengan memenjarakan Gaza dari dunia luar.

Ketika hal itu terjadi, dampak pertama yang dirasakan adalah keruntuhan di sektor ekonomi. Tidak ada transaksi jual-beli melalui ekspor dan impor, tidak ada pemasukan dari sektor pariwisata, tidak ada warga yang bisa bekerja keluar wilayah, dan sejumlah permasalahan lainnya.

Hal ini kemudian memengaruhi tingkat kemampuan ekonomi pemerintah dan warga. Tidak bisa berdagang artinya menjadi pengangguran, tidak bisa bekerja keluar wilayah, pun bernasib sama seperti para pedagang.

Bocah ini harus mengalami kemiskinan akibat pemblokadean Israel di Gaza. (Sumber. Middle East Monitor)

Ibarat efek domino, pada akhirnya permasalahan tersebut memengaruhi angka kemiskinan di wilayah. Membuat kehidupan warga mengalami kesenjangan yang cukup besar dengan tingkat kesejahteraan minimal.

Jika sudah seperti itu, mau tidak mau domino selanjutnya akan turut rubuh, yakni menimpa sektor kesehatan. Tidak adanya kesejahteraan, membuat warga kesulitan dalam memenuhi hak tubuh seperti pemenuhan gizi.

Selain itu, banyak kasus bermunculan, di mana pemblokadean yang Israel lakukan telah menghalangi banyak pasien kritis – dalam memperoleh hak berobat di luar wilayah. Jalur Gaza yang terbatas dalam memfasilitasi warga di sektor kesehatan, memaksa para pasiennya keluar dari wilayah untuk memperoleh fasilitas kesehatan yang cukup.


Anaam al-Attar, bocah Gaza yang harus berobat seorang diri di luar Gaza, karena orang tua yang tidak mendapatkan izin pergi dari Israel. (Sumber. Anadolu Agency)

Akan tetapi, dengan berbagai dalih yang dibuat-buat, penjajah sering kali mempersulit bahkan tidak mengeluarkan izin untuk warga yang memerlukan. Angka kematian, lantas mengalami kenaikan.

Tidak hanya itu, rubuhnya sektor ekonomi juga telah memengaruhi sektor pangan, di mana sebagian besar warga yang merupakan pengangguran – kini ketergantungan pada bantuan pangan yang diberikan oleh negara-negara lain.

Para penjajah pun tidak puas hanya dengan blokade. Sejumlah serangan masif tercatat dalam sejarah kelam Gaza, di mana ribuan nyawa menjadi mainan para penjajah, serta banyaknya infrastruktur yang mengalami kerusakan parah.

Salah satu serangan udara Israel ke Gaza. (Sumber. English Palinfo)

Bertahan dan Bangkit, walau Harus Tertatih

Walau begitu, hal yang lebih mengejutkan adalah bagaimana mental warga telah menginspirasi jutaan orang di luar Palestina.

Gaza yang bahkan diprediksi oleh PBB menjadi wilayah tak layak huni di tahun 2020, tidak membuat mental pribumi ciut lantas menyerah terhadap kehidupan.

Hingga hari ini, warga tetap berjuang untuk melepaskan diri dari pemblokadean, berjuang untuk produktif dalam membuat karya dan bermanfaat untuk sekitar.

Aya, pemudi Gaza yang berprofesi sebagai arsitek dan desainer. (Sumber. Oxfam)

Salah satu contohnya, datang dari seorang pemudi bernama Aya. Perempuan di bawah usia 30 tahun itu harus menghadapi permasalahan terkait kurangnya lowongan pekerjaan.

Aya merupakan seorang arsitek dan desainer. Sulitnya mencari pekerjaan telah membawa Aya pada solusi lain, agar tetap aktif dan produktif, yakni membuka sebuah “bengkel kayu”. Ia juga mengembangkan sebuah metode ramah lingkungan untuk membuat furnitur, dengan mendaur ulang palet kayu.

“Aku menggunakan kemampuan mendesain untuk menunjukkan pada orang-orang Gaza, bahwa kita mampu melakukan sesuatu yang kreatif, dan menciptakan banyak barang dari bahan-bahan sederhana,” ungkap Aya.

Ingin Bantu Negeri Anbia? Pilih Lembaga Donasi Resmi Kasih Palestina!

“Aku akan membuka pabrik kayu yang sangat besar dan memperluas usaha ini…”

Optimisme Aya menjadi cerminan betapa semangat itu masih membara. Setiap hari, warga terus berusaha melanjutkan hidup, hingga pemblokadean jera dan berhenti dari usaha melenyapkan Gaza. (kimikim/kasihpalestina)

 

*Diambil dari Beberapa Sumber

Bagikan Artikel

Kampanye

Bantu Palestina Lawan Covid-19

Palestina menghadapi situasi yang sangat pelik, di tengah derita penjajahan, kini wabah Covid-19 atau Corona mengancam warga Palestina. 

...

Donasi Sekarang

Kirim Kasih Anak-anak Palestina

Kasih Anda bahagiakan anak-anak Palestina

...

Donasi Sekarang

Terimakasih sudah berkunjung, untuk konfirmasi & pertanyaan bisa langsung ke admin kami dibawah ini.