6 Masalah Krisis yang Dihadapi Palestina

314 Dilihat 21 September 2020 19:38 By: Admin

Ketika penjajah masih berada di Palestina, artinya ada banyak masalah yang timbul dan dirasakan oleh pribumi, termasuk 6 masalah krisis hari ini.

kasihpalestina.com - Puluhan tahun menjadi negara terjajah, membawa Palestina pada sedikitnya enam masalah krisis yang masih menghantui hingga hari ini. Lantas, apa saja permasalahan pelik yang disebabkan oleh eksistensi penjajah? Akan Kasih Palestina – lembaga donasi resmi Palestina – bahas dalam ulasan berikut ini.

Keterangan Foto: Sehari-hari warga Palestina harus melewati pos pemeriksaan buatan Israel. (Sumber. Palestine Post)

 

Akses yang Dibatasi

Baik itu wilayah Jalur Gaza maupun Tepi Barat, keduanya merasakan betapa sulitnya memiliki akses gerak dalam beraktivitas.

Begitu banyaknya pos pemeriksaan dan bentuk-bentuk penjagaan ketat lainnya, sering kali membuat warga Palestina terlambat dalam memperoleh hak berobat.

Akibatnya, tidak sedikit nyawa sipil yang melayang begitu saja, hanya karena tertahan lebih lama di pos pemeriksaan atau wilayah perbatasan.

Keterangan Foto: Salah satu rumah di Gaza yang hancur akibat serangan udara Israel. (Sumber. Time Magazine)

 

Bangunan Tak Layak

Rumah yang tak layak ditinggali telah menjadi permasalahan serius, khususnya di wilayah Jalur Gaza. Serangan udara yang sering kali diluncurkan oleh Israel, telah menyebabkan rumah-rumah warga tak lagi utuh.

Dampak dari situasi ini, pada akhirnya bercabang pada masalah-masalah krusial lain. Warga di dataran rendah terancam terkena dampak langsung dari banjir tahunan (saat musim dingin), karena kondisi rumah yang buruk. Jika sudah seperti itu, kesehatan wargalah yang kemudian terancam, baik secara fisik maupun mental.

Tak hanya itu, kondisi seperti ini sangatlah berbahaya bagi mereka yang tinggal di barak-barak pengungsian, di mana jumlah barak di wilayah pemblokadean pun tidaklah sedikit. Pasalnya, dengan kondisi rumah yang tak layak, populasi yang besar telah memadati area pengungsian dan membuatnya “kelebihan muatan”.

Lantas, mengapa warga tidak melakukan perbaikan terhadap rumah/bangunan yang rusak? Hal ini dikarenakan pembatasan akses masuk terhadap material bangunan. Warga akhirnya tak mampu melakukan perbaikan bangunan secara cepat, seperti yang semestinya dilakukan.

Keterangan Foto: Angka pengangguran di Palestina tinggi. (Sumber. Alray)

 

Anjloknya Sektor Ekonomi

Salah satu sektor yang mengalami keruntuhan adalah ekonomi, di mana angka pengangguran di Palestina tergolong tinggi. Bank Dunia melaporkan di tahun 2018; angka pengangguran di sana mencapai 31% dan merupakan salah satu angka pengangguran tertinggi di dunia.

Akan tetapi, permasalah yang lebih buruk terjadi di Gaza. Lebih dari 50% tenaga kerja masih belum mendapatkan pekerjaan. Sementara itu, angka kemiskinan pun cukup buruk dengan persentase 53%.

Secara keseluruhan, pendapatan per kapita yang bahkan tak pernah tinggi turun sebesar 1,7% pada 2018, baik di wilayah Tepi Barat maupun Jalur Gaza.

Keterangan Foto: Suasana belajar di salah satu sekolah di Palestina. (Sumber. Middle East Monitor)

 

Tantangan dan Keterbatasan Pendidikan

Walaupun 97% warga Palestina terpelajar, akses pendidikan di sana masih mengalami tantangan cukup serius.

Di Jalur Gaza, lebih dari 90% sekolah harus menjalankan sistem bergilir. Satu kelas siswa akan masuk di pagi hari, sementara kelas selanjutnya masuk di siang hari. Pada akhirnya, sistem ini menciptakan kelas dalam jumlah besar.

Menurut Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), rata-rata ukuran kelas di sekolah-sekolah UNRWA pada tahun ajaran 2018/2019 mencapai 40 anak. Sementara itu, UNFPA melaporkan bahwa akan ada 1,2 juta siswa lagi di Gaza hingga 2030. Artinya, Gaza memerlukan lebih dari 900 sekolah lagi dan 23 ribu guru tambahan.

Beralih ke Tepi Barat, sejumlah masalah pendidikan yang dihadapi pribumi di sana berbeda dengan warga lokal di Gaza. Siswa-siswa di Tepi Barat biasanya menghadapi permasalahan terkait transportasi; yang perlu melewati lebih dari satu pos pemeriksaaan penjajah dan harus berjalan kaki jauh menuju sekolah.

Tak hanya itu, para siswa juga harus berhati-hati saat melewati pemukiman ilegal Israel, karena khawatir diganggu oleh para pemukim. Di bulan Januari 2019 sendiri, PBB memperingatkan bahwa anak-anak Palestina terkena dampak yang cukup serius, akibat gangguan di dalam dan sekitar sekolah, di wilayah Tepi Barat.

Keterangan Foto: Krisis pangan di Palestina, termasuk di Jalur Gaza. (Sumber. UNRWA)

 

Kerawanan Pangan

Permasalahan ini termasuk masalah utama bagi warga Palestina. Di Jalur Gaza, walaupun banyak yang menerima bantuan makanan, lebih dari 50% warganya justru mengalami kerawanan pangan. Selain itu, lebih dari 20% warga di Tepi Barat juga mengalami situasi yang sama.

Terkait ini, terdapat banyak penyebab. Pertama, harga makanan yang tinggi. Selain itu, jumlah bantuan untuk Gaza dan Tepi Barat yang dibatasi. Ke tiga, berkurangnya dana bantuan dari luar negeri, yang artinya sejumlah organisasi kemanusiaan memiliki lebih sedikit dana dalam membelli makanan untuk mereka yang membutuhkan.

Sementara itu, permasalahan lain yang signifikan adalah akses warga Palestina dalam menggunakan tanah pertanian. Akibat ulah penjajah yang memasang “penghalang” sepanjang satu kilometer di perbatasam Tepi Barat, Gaza, dan Israel, warga khususnya petani tidak bisa mengakses lahan.

 

Baca Juga: Krisis Air Bersih di Rumah Sakit Gaza – Palestina

 

Hal ini sangat terasa di Jalur Gaza, di mana penghalang tersebut menutupi sejumlah lahan pertanian terbaik di wilayah. Alhasil, sektor pertanian Gaza mengalami penurunan.

Selanjutnya, sektor perikanan juga tak luput dari gangguan penjajah, yang jelas memengaruhi ketahanan pangan Gaza. Selama ini, Israel telah menerapkan pembatasan area melaut untuk nelayan Palestina.

Dahulu, nelayan bisa mendapatkan nafkah yang besar dari melaut. Akan tetapi, hal itu kini menjadi sangat sulit karena campur tangan Israel.

Keterangan Foto: Israel sering kali mengganggu pribumi Palestina secara fisik. (Sumber. Google)

 

Kekerasan oleh Penjajah

Hidup di negeri terjajah, membuat warga merasakan banyak gangguan dari penjajah termasuk kekerasan secara fisik.

Bagi warga Palestina yang berada di Tepi Barat, hidup berdampingan dengan penjajah telah membawa mereka pada banyak ketidaknyamanan. Penangkapan, penganiayaan, pembunuhan, pencelaan, penghancuran rumah, perusakan dan pencurian lahan, serta masih banyak lagi.

Sementara itu, walaupun warga Palestina di Gaza tidak berdampingan secara langsung dengan penjajah Israel, tidak henti-hentinya penjajah melakukan gangguan melalui serangan udara. Akibatnya, banyak nyawa tak bersalah yang melayang dan bangunan-bangunan yang rusak parah.

Inilah sekelumit permasalahan krisis di Palestina hari ini, yang mana tidak akan berakhir sebelum penjajah angkat kaki dari negeri para nabi. Allaahu Akbar! (kimikim/kasihpalestina)

Sumber. Anera, dan lainnya

Bagikan Artikel

Kampanye

Wakaf Sumur Bor di Gaza, Alirkan Pahala Jariah Anda

Kasih Qurban, Bukti Cinta Kita untuk Palestina

Idul Adha adalah waktu terbaik untuk berlomba-lomba buktikan cinta kita kepada Palestina. Sekerat daging qurban dari kita, nyalakan semangat perjuangan mereka.

...

Donasi Sekarang

Terimakasih sudah berkunjung, untuk konfirmasi & pertanyaan bisa langsung ke admin kami dibawah ini.