Kasihpalestina.com – Saat matahari mulai terbenam, para pria berlari untuk mengambil makanan penutup di menit terakhir dan kerumunan anak-anak yang bermain dengan senjata mainan mulai merasa gelisah – sudah waktunya berbuka puasa di barak pengungsian Jalazone.

Hanya ada sedikit perniagaan di barak pengungsian selama Ramadhan, dan sepanjang hari para pria duduk-duduk di luar toko-toko yang kosong, menunggu untuk iftar (buka puasa) – saat keluarga dan teman berkumpul untuk berbuka puasa.

Cuaca panas dan berdebu di Jalazone, namun terlepas dari itu – dan adanya fakta bahwa mereka belum makan atau minum air sejak pukul tiga pagi – para warga di barak mengatakan bahwa mereka mencintai Ramadhan.

“Saya (telah) menunggu dan merindukan Ramadhan,” ucap Mohamad Zbeide, seorang pegawai kantoran berusia 34 tahun beberapa tahun silam.

“Akhir-akhir ini, di barak terasa berbeda dibandingkan hari-hari lainnya – hidup lebih terang saat Anda berkumpul dengan kawan dan keluarga.”

Kumpul keluarga sering kali sulit dilakukan bagi mereka yang hidup di barak pengungsian. “Kami mengundang kakek dan nenek kami, juga paman, untuk datang dan makan bersama kami, namun mereka tidak bisa datang karena mereka dihentikan di pos pemeriksaan, saat datang dari Jericho,” ungkap Muatasm (12). “Ini (sangatlah) sulit – terakhir kali saya meihat mereka adalah beberapa bulan lalu.”

Nasser Subarene (39), salah satu pegawai di Kementerian Pendidikan Palestina, belum bertemu keluarganya hampir selama satu tahun. “Ramadhan kali ini, keluarga saya datang berkunjung dan tinggal bersama saya selama 30 hari. Saya begitu bersyukur.”

Baca Juga: Ramadhan dalam Bui bagi Tahanan Palestina

Setelah berbuka puasa bersama, mereka bersiap untuk salat. “Tidak pernah saya berpikir akan beribadah di atas atap rumah seseorang,” ucap Nazeeh Ramaha. “Ini pertama kali salat di atas atap – ketika saya berdiri, saya dapat melihat seluruh lingkungan sekitar. Saya bisa terhubung dengan kesederhanaan hidup.”

Di seberang jalan yang sempit, warga lain juga sedang berada di atas atap mereka. “Rumah-rumah begitu dekat satu sama lain, kami bisa saling sapa dan berbincang,” lanjut Ramaha, seorang petugas layanan di Pasukan Keamanan Preventif Palestina.

Makan malam di atas atap memiliki tujuan lain di barak pengungsian, ia mengatakan: “Jika kami dikepung, kami dapat melihat kapan mereka (orang-orang Israel) datang.”

Krisis ekonomi yang juga mendampaki barak pengungsian, membuat Ramadhan menjadi “mahal”. Satu porsi makanan bisa mencapai 100 shekel (sekitar 25 dolar, pada saat itu).

Itulah Ramadhan di barak pengungsian Jalazone, beberapa tahun silam, yang juga tidak jauh berbeda dengan saat ini, mengingat kondisi negeri yang masih dalam penjajahan Israel. Semoga dengan mendengar cerita mereka, mata kita lebih terbuka dengan realitas yang ada di dunia ini. (kimikim/kasihpalestina)

Sumber. Public Radio International (PRI)

Rek. Donasi:

Bank Syariah Mandiri (451): 1001 2016 2 6 a.n Kasih Palestina.

Konfirmasi donasi:

Call/SMS/WA: 08 123 2011 55 (http://bit.ly/kasihpalestina)