Kondisi Anak Palestina - Palestine UpdateBerita

Anak-anak Palestina dan Perjuangan Mereka dalam Lawan Penjajah

 

Kasihpalestina.com – Mereka kini tumbuh dewasa. Meski begitu, masa kecil yang dihabiskan dalam lingkup penjajahan tidak akan pernah mereka lupa. Kilas balik pada beberapa tahun silam, bagaimana pemuda-pemudi Palestina itu melewati masa kanak-kanak mereka?

Nawal Jabarin

Ketika itu, usianya menginjak angka 12. Di wilayah Tepi Barat bagian selatan, Nawal tinggal di dalam sebuah gua. Kehidupan keluarganya jauh dari kata mudah. Gua dan tenda di dekatnya merupakan rumah bagi 18 orang (orang tua, ia, dan saudara-saudaranya).

Sehari-hari, dia jarang meninggalkan kampungnya, namun saat bepergian, para pemukim menghentikan ia dan sang ayah. Mereka memukuli ayah Nawal di depan matanya, menyumpahi dengan kata-kata kasar terhadap keduanya.

“Mereka merampas barang-barang kami…”

Di rumah pun, tidak lantas menjadi aman. “Para tentara masuk (ke dalam gua) untuk menggeledah. Aku tidak tahu apa yang mereka cari. Terkadang mereka membuka kandang dan melepas domba-domba yang ada di sana. Di bulan Ramadhan, mereka datang dan membawa paksa saudara laki-lakiku. Aku melihat para tentara memukuli mereka dengan ujung senapan. Mereka memaksa kami meninggalkan gua.”

Meski begitu, kesulitan di dalam hidupnya tak menghilangkan kegembiraan di hati Nawal. “Ini adalah tanah airku, di sinilah aku ingin berada. Di sini sulit, namun aku suka rumah, tanah, dan domba-dombaku.”

“Aku akan lebih senang, jika diizinkan untuk tinggal.”

Nawal seperti anak-anak lain, yang juga memiliki “kehidupan sekolah”. Mencari pendidikan di sekolah yang terkena perintah penghancuran, Nawal juga memiliki kehidupan yang tidak mudah di sekolah. Berbagai lika-liku karena adanya gangguan penjajah, membuat dirinya berkeras untuk untuk tidak takut kepada tentara Israel.

Akan tetapi, ketika suatu kali ditanya mengenai pernahkah ia menangis ketika rumahnya digerebek, Nawal ragu sejenak sebelum akhirnya mengangguk perlahan, enggan mengakui ketakutannya.

Waleed Abu Aishe

Hal yang tidak jauh berbeda juga dirasakan oleh remaja 13 tahun, Waleed Abu Aishe. Tentara Israel yang ditempatkan di ujung jalan kota Hebron selama 24 jam, mempersulit dirinya ketika dalam perjalanan ke sekolah. Mereka seolah tidak mengetahui namanya dan mempersulit Waleed ketika mencoba melewati pos pemeriksaan.

“Mereka membuat-buat seolah tidak mengetahui nama kami, tapi tentu saja mereka tahu. Mereka hanya ingin mempersulit (kami).”

Di lingkungannya, Tel Rumeida, hampir seluruh warga Palestina pergi dari sana. Hanya Abu Aishe dan satu keluarga lain yang tetap ada di sana, bersama dengan blok apartemen baru para pemukim Israel.

Baca Juga: Penjajahan Sebabkan Mimpi Buruk untuk Anak-anak Palestina

Waleed tinggal lebih dekat dengan para tentara dan pemukim dibandingkan dengan Nawal Jabarin. Dari jendela rumahnya, ia dapat melihat secara langsung rumah-rumah dari para pemukim beberapa meter jauhnya. Sementara itu, di sebelah rumahnya terdapat perumahan pangkalan militer untuk sekitar 400 tentara.

Sehari-hari, para penjajah sering kali memberikan perlakuan yang tidak menyenangkan; seperti jendela kaca yang dirusak, mengalami pelemparan batu, dan kekerasan berulang kali oleh pemukim. Pada akhirnya, keluarga Abu Aishe harus memasang pagar kawat di jendela-jendela rumah dan kamera pengawas di depan rumah, yang telah keluarga besarnya diami selama 55 tahun.

Ketika tidak berada di sekolah, Waleed menghabiskan hampir seluruh waktunya di dalam “kandang”.

“Bagiku, ini normal. Aku terbiasa dengan ini. Tapi rasanya seperti tinggal di dalam penjara. Tidak seorang pun yang mengunjungi kami. Para tentara menghentikan orang-orang di ujung jalan, dan apabila mereka bukan keluarga kami, dilarang bagi mereka melakukan kunjungan.”

“Hanya ada satu jalan menuju rumah kami, dan para tentara berjaga di sana siang dan malam. Aku tidak hal-hal lain: mereka telah berada di sini sejak aku lahir.”

Terlepas dari kerelaannya, Waleed berharap bahwa teman-temannya dapat berkunjung ke rumah, atau bahwa ia dan saudara laki-lakinya dapat bermain bola di jalan. Sesederhana itu. (kimikim/kasihpalestina)

Sumber. Middle East Children’s Alliance

Rekening Donasi: BSM 1001 2016 2 6 (a.n Kasih Palestina)

Call Center (konfirmasi & informasi lanjutan): 08 123 2011 55

Ramadan Bersatu untuk Palestina - Kasih PalestinaBerita

Ramadan Menyatukan Kita