Krisis Gaza - Kasih PalestinaGaza

Rumah Sakit Sekarat, Jalur Gaza Tamat?

Kasihpalestina.com – Situasi Unit Gawat Darurat (UGD) saat itu sudah cukup kacau. Ranjang pasien mondar-mandir mengantarkan para korban, terutama mereka yang menucur darah, meregang nyawa  dihantam sniper Zionis di Aksi Kepulangan Akbar. Rumah Sakit Shifah di Jalur Gaza, menjadi salah satu saksi banyaknya korban serangan kejamnya penjajah Israel atas nyawa tak berdosa Palestina.

Adanya serangan Israel di perbatasan Gaza hanya memperburuk sektor kesehatan di sana. Pasalnya, sebelum ada serangan, Jalur Gaza sudah hidup dengan segala macam krisis yang merupakan dampak dari 12 tahun pemblokadean penjajah.

Dan salah satunya menimpa sektor kesehatan, terutama layanan kesehatan: rumah sakit. Saat ini, sejumlah rumah sakit yang ada di Gaza mengalami berbagai permasalahan dalam pengoperasiannya.

Pertama: Krisis listrik membunuh fasilitas rumah sakit

Yang pertama, adanya krisis listrik telah memengaruhi performa rumah sakit. Seperti yang sudah diketahui banyak orang, listrik di Gaza hanya menyala kurang dari 10 jam setiap hari. Akibatnya tidak hanya dirasakan secara langsung oleh warga sipil, tapi juga fasilitas layanan publik seperti rumah sakit.

Baca Juga: Kementerian Kesehatan Ingatkan Adanya Krisis Obat-obatan di Jalur Gaza

Kedua: Krisis obat-obatan dan perlengkapan medis

Yang kedua adalah krisis obat-obatan yang masih betah menimpa sektor kesehatan, dan tak ketinggalan dengan krisis peralatan medis. Belum lama ini, pihak berwenang di Tepi Barat terkait keperluan medis, juga belum mengirimkan sejumlah keperluan medis untuk Jalur Gaza.

Memang, adanya pemblokadean telah menghambat kehidupan warga Palestina di Gaza. Tidak hanya warga yang kesulitan bepergian, tapi segala barang dan kebutuhan yang keluar-masuk wilayah, benar-benar dipersulit oleh penjajah.

Maka, ketika obat-obatan maupun peralatan medis yang diperlukan tak kunjung sampai, bisa jadi, salah satu penyebabnya adalah penghambatan yang dilakukan penjajah di perbatasan. Jalur Gaza, begitu terasa seperti penjaga terbuka. Baik itu di jalur udara, darat, maupun laut.

Kondisi hari ini terus saja memburuk, karena penjajah yang tidak hentinya melakukan serangan. Semakin tinggi intensitas serangan, semakin tinggi kebutuhan di sektor kesehatan. Akankah Jalur Gaza kita biarkan tetap seperti ini? Ketika saudara-saudara memanggil meminta bantuan, kita hanya berdiam diri dan tidak peduli? (kimikim/kasihpalestina)

*Diambil dari beberapa sumber

Rek. Donasi: Bank Syariah Mandiri (451): 1001 2016 2 6 a.n Kasih Palestina

Konfirmasi donasi: Call/SMS/WA: 08 123 2011 55 (WA: http://bit.ly/kasihpalestina)

Ramadan Bersatu untuk Palestina - Kasih PalestinaBerita

Ramadan Menyatukan Kita