Ramadhan di Palestina - Kasih PalestinaUncategorized @id

5 Hal yang Kamu Rasakan jika Jalani Ramadan di Palestina

Kasihpalestina.com – Ramadan di Indonesia identik dengan ngabuburit, ketika kita menunggu waktu azan magrib menjelang berbuka puasa, bersama orang-orang terkasih. Selain itu, Ramadan membuat kita bersemangat untuk berkumpul dengan orang-orang yang sudah lama tak jumpa, melalui acara “buka bersama”. Akan tetapi, apa yang kemudian terlintas dalam pikiran saat membayangkan Ramadan di tanah Palestina? Sepertinya, tidaklah sama dan jauh dari kata euforia.

Lantas, pernahkah kita membayangkan, bagaimana sih, Ramadan di negeri terjajah itu? Berikut adalah 5 hal yang akan kita rasakan, apabila kita menjalani Ramadan di sana dan itu tidak ada di Indonesia.

  1. Buka Puasa di Rumah yang Hancur

Hal ini begitu terasa di tanah pemblokadean, Jalur Gaza. Karena seringnya serangan Israel dalam kurun waktu 12 tahun ini, pemulihan bangunan yang hancur berjalan lambat. Maka akibatnya, di bulan Ramadan, bulan yang suci, mereka terpaksa berbuka puasa di rumah-rumah yang telah hancur.

  1. Tarawih di Masjid yang Tak Layak

Sama seperti rumah-rumah yang hancur karena serangan, sejumlah fasilitas ibadah (masjid) tak luput dari sasaran serangan penjajah di Gaza. Meski begitu, warga yang memang tangguh tidak meninggalkan masjid mereka, walaupun kondisinya sudah tidak utuh.

  1. Jalani Puasa di Perbatasan (dalam Aksi Kepulangan Akbar)

Sudah satu tahun berlangsung, aksi damai warga Palestina dalam menuntut penghentian blokade dan pengembalian hak pulang pengungsi Palestina. Aksi yang kemudian Israel ubah menjadi pembantaian ini, tidak menghentikan perjuangan warga, dan mereka memilih tetap menjalani puasa di wilayah perbatasan tersebut.

Baca Juga: Ramadan Menyatukan Kita

  1. Sahur dalam Kegelapan

Pemblokadean di Gaza selama 12 tahun telah mengakibatkan keruntuhan di sejumlah sektor kehidupan, termasuk sektor listrik. Akibatnya, warga hanya bisa menggunakan listrik kurang dari sepuluh jam setiap harinya. Maka tidak aneh, apabila di malam-malam istimewa bulan Ramadan, warga harus makan sahur dalam kondisi gelap dan hanya ditemani cahaya-cahaya temaram dari petromaks.

  1. Dihantui Para Penjajah

Ramadan yang jelas berbeda dengan negeri kita, Indonesia, yang aman sentosa. Di Palestina, orang-orang yang beribadah secara tenang di bulan Ramadan, agak sulit dirasakan sepenuhnya. Karena di mana-mana, termasuk di Al-Quds (Yerusalem), warga harus melihat para polisi dan tentara penjajah yang berkeliaran. Kehadiran mereka pun tidak bisa diprediksi, salah sedikit menurut penjajah, nuansa tenang Ramadan akan dirusak oleh mereka.

Itulah lima perbedaan Ramadan di negeri para anbia, Palestina. Semoga, ini menjadi pelajaran dan penyemangat untuk ibadah-ibadah kita, terutama di bulan Ramadan mendatang. Insyaallah. Aamiin… (kimikim/kasihpalestina)

*Diambil dari beberapa sumber

Rekening Donasi: BSM 1001 2016 2 6 (a.n Kasih Palestina)

Call Center (konfirmasi & informasi lanjutan): 08123 2011 55

Ramadan Bersatu untuk Palestina - Kasih PalestinaBerita

Ramadan Menyatukan Kita