Ramadan Tahun Lalu di Palestina - Kasih PalestinaAl-Aqsha

Ramadan 1439 Hijriah di Kota Terjajah, Al-Quds

Kasihpalestina.com – Ingin tahu, bagaimana warga Palestina khususnya di Tepi Barat mengisi waktu Ramadannya? Bagaimana sulitnya mereka mengunjungi masjid suci ketiga, Al-Aqsha, sementara tempat itu tidak terlalu jauh. Inilah sepenggal cerita dari saudara-saudara Palestina.

Awal Ramadan tahun lalu, lebih dari seratus ribu warga Palestina – banyak dari mereka berasal dari Tepi Barat – telah sampai di kompleks Masjid Al-Aqsha untuk Jumat pertama di bulan yang suci.

Mereka, warga Palestina dari wilayah pendudukan, yang sebaliknya tidak bisa mengakses Al-Quds (Yerusalem), biasanya diizinkan memasuki kota dalam kondisi yang ketat selama hari Jumat di bulan Ramadan.

Hampir setiap harinya, pos pemeriksaan Qalandiya, gerbang utama di Tepi Barat menuju Al-Quds dan sekitarnya, yang menyerupai perbatasan darat, dilengkapi dengan terminal, pintu putar, dan detektor keamanan.

Warga Palestina hanya bisa melewati pos apabila memegang izin bepergian dari militer Israel, yang biasanya diberikan kepada warga Palestina dari segala usia selama bulan Ramadan. Untuk Ramadan kali itu, pria berusia lebih dari 40 tahun, anak laki-laki di bawah 12 tahun dan wanita dari segala usia, yang diizinkan melewati pos tanpa perlu perizinan.

Sebagian besar lewat begitu saja tanpa dihentikan, meski tentara Israel berdiri di dekatnya. Sesekali, seorang pria akan dihentikan dan dimintai kartu identitas  yang dikeluarkan oleh militer Israel, untuk dipastikan apakah usianya sesuai atau tidak.

‘Penting untuk Pergi ke Al-Quds Kapan pun Kami Mampu’

Beberapa ibu terlihat berjalan bersama putra-putra mereka yang lebih muda, berharap bahwa mereka akan diabaikan dan tak perlu digeledah.

Munira Abu Nasra, wanita berusia 40 tahun ini berjalan dengan rasa percaya diri melewati para tentara, menggenggam tangan putranya yang berusia sembilan tahun, dan tangan satu lagi yang memegang sebuah tas.

“Saya memiliki firasat bahwa Jumat ini tidak akan ada banyak orang yang melewati Qalandiya,” ujarnya.

“Itulah mengapa, saya yakin untuk datang hari ini.”

Pada hari Senin, sekitar ratusan warga Palestina berkumpul di Al-Quds untuk melakukan protes atas pemindahan kedutaan besar Amerika Serikat (AS) ke kota, sebuah tindakan yang dikritik tajam oleh komunitas internasional.

Perayaan pemindahan kedubes diselenggarakan, bersamaan dengan tentara Israel yang membunuh sedikitnya 62 warga Palestina di Jalur Gaza, dalam Aksi Kepulangan Akbar.

Baca Juga: Bulan Suci 1440 Hijriah, Ramadan yang Menyatukan Indonesia dan Palestina

“Warga tidak yakin apakah situasinya sudah cukup stabil dan (mereka) masih takut untuk pergi ke Al-Quds, mengingat peristiwa pekan lalu,” lanjutnya.

Abu Nasra berasal dari kota Bir Nabala, yang merupakan kota pinggiran Yerusalem Timur, yang dipisahkan dari kota oleh tembok pemisah, dan saat ini dianggap sebagai Tepi Barat.

“Sangat penting untuk pergi ke Yerusalem (Al-Quds) kapan pun kami mampu,” ia melanjutkan, “Saya memiliki satu putra lain yang berusia 16 tahun, dan tidak ada cara ia dapat melewati Qalandiya.”

‘Mimpi yang Jadi Nyata’

Perjalanan singkat setelah melewati pos pemeriksaan berakhir di depan Jalan Salah Al-Din, pusat komersial utama di Yerusalem Timur (yang diduduki), tempat di mana barikade logam didirikan di berbagai titik.

Helikopter dan drone beterbangan di langit, jumlah personel polisi Israel yang bertambah, dan pos pemeriksaan – itu adalah area pemeriksaan militer sementara.

Masuk melalui salah satu gerbang Kota Tua, warga Palestina memilih cara itu untuk memasuki kompleks Masjid Al-Aqsha. Beberapa orang memegang alas salat di atas kepala, demi melindungi diri dari teriknya matahari.

Sementara itu di dalam kompleks, karena dua masjid penuh, para wanita, pria, dan anak-anak berlindung di bawah pohon, menunggu waktu panggilan salat (azan).

Syekh Azzam Al-Khatib, Direktur Umum Wakaf Yerusalem dan Masjid Al-Aqsha, memberi tahu bahwa sebanyak 120 ribu jemaah menghadiri Masjid Al-Aqsha untuk melakukan salat Jumat.

“Datang ke Yerusalem (Al-Quds) merupakan mimpi yang menjadi nyata,” ucap Hadeel Dabaas, wanita muda asal Tulkarem. “Saya berencana datang ke sini setiap hari Jumat, selama situasinya tenang dan tidak ada kesulitan di pos pemeriksaan.”

Begitu luar biasa semangat ibadah para saudara di Palestina, termasuk saudara-saudara di Al-Quds. Meskipun negeri mereka sedang tidak kondusif karena penjajahan dan krisis, fokus mereka akan Ramadan tetaplah ibadah, terutama beribadah di salah satu masjid yang dimuliakan: Al-Aqsha. Itulah Ramadan mereka tahun lalu, bagaimana dengan Ramadanmu di tahun lalu? (kimikim/kasihpalestina)

Sumber. Aljazeera

Rekening Donasi: BSM 1001 2016 2 6 (a.n Kasih Palestina)
Call Center (konfirmasi & informasi lanjutan): 08123 2011 55

 

Ramadan Bersatu untuk Palestina - Kasih PalestinaBerita

Ramadan Menyatukan Kita