Negeri Anbia, Palestina - Kasih PalestinaBerita

Negeri Anbia dan Krisis Air yang Tak Berujung

Kasihpalestina.com – Palestina telah dijajah Israel selama puluhan tahun, dan masih berlangsung hingga hari ini. Selama itu pula, penderitaan telah dirasakan masyarakatnya terutama berkaitan dengan krisis air yang tak kunjung berakhir.

Hal ironis lainnya adalah krisis itu hanya dialami oleh rakyat Palestina sendiri, di mana para pemukim ilegal dapat menikmati jumlah air yang melimpah. Menurut sejumlah tokoh Palestina, para pemukim Israel di Tepi Barat mengonsumsi air rata-rata sepuluh kali lebih banyak dibandingkan warga Palestina.

“Saat ini, warga Palestina di Tepi Barat mengonsumsi sekitar 70 liter air per kapita setiap harinya. Sementara itu, penggunaan air di Israel mencapai 300 liter dan para pemukim di Tepi Barat mengonsumsi air hingga 800 liter per hari,” ungkap Abdel-Rahman Tamimi, pengelola Kelompok Hidrologi Palestina (Palestinian Hydrology Group).

Menurut lembaga kesehatan dunia, World Health Organization (WHO), masyarakat memerlukan penjatahan harian air minimum sekitar 100 sampai 120 liter untuk menjaga standar kehidupan yang paling dasar.

Sementara populasi warga telah meningkat dua kali lipat sejak penandatanganan Perjanjian Oslo di tahun 1993, jumlah air yang tersedia di Tepi Barat – kurang lebih 110 juta meter kubik air per tahun – masih tetap pada tingkat (tahun) 1995, menurut para ahli.

Baca Juga: Ketika Krisis Air Gerogoti Jalur Gaza

“Menurut perjanjian tersebut, kuota air untuk warga Palestina semestinya mencapai 200 juta meter kubik pada tahun 2000,” lanjut Tamimi.

Krisis air paling akut dialami oleh warga di Area C, Tepi Barat,  di mana lebih dari 150 ribu warga Palestina tinggal di lebih dari 540 komunitas, 200 di antaranya masih menderita akibat krisis air bersih.

“Sekitar 100.000 warga Palestina di Area C tinggal di komunitas yang tidak terhubung dengan jaringan air,” jelas Tamimi, “Komunitas-komunitas ini harus membeli sendiri air dari truk-truk, karena Israel tidak memberikan izin penghubungan jaringan air.”

Kepala Otoritas Air Palestina (Palestinian Water Authority (PWA)) Mazen Ghonim, mengatakan bahwa krisis air di Palestina akan berakhir, hanya jika pendudukan Israel berakhir. Dirinya menekankan bahwa warga Palestina menderita akibat krisis air dan air minum yang parah, akibat tindakan ketat Israel yang tidak dibenarkan terkait akses ke sumber air.

Itu hanyalah sebagian kecil kasus dari krisis air yang melanda negeri Palestina, dan disebabkan oleh pendudukan Israel berpuluh tahun lamanya. Di peringatan Hari Air Sedunia tanggal 22 Maret ini, sayangnya saudara-saudara kita di Palestina masih begitu menderita. Semoga, ini menjadi pemicu semangat kita bersama untuk senantiasa membantu mereka dan saudara-saudara lainnya. (kimikim/kasihpalestina)

Sumber. Anadolu Agency, Middle East Monitor

Rekening Donasi: BSM 1001 2016 2 6 (a.n Kasih Palestina)

Call Center (konfirmasi pengiriman & informasi lebih lanjut): 08123 2011 55

Ramadan Bersatu untuk Palestina - Kasih PalestinaBerita

Ramadan Menyatukan Kita