Al-Aqsha Kiblat Pertama Muslim - Kasih PalestinaAl-Aqsha

Antara Al-Aqsha, Yahudi dan Sejarah yang Mereka Yakini

Kasihpalestina.com – Kompleks Masjid Al-Aqsha, tempat yang dianggap penting bukan hanya oleh umat Islam, tapi juga oleh Nasrani dan Yahudi dengan deskripsi masing-masing terhadap situs suci tersebut. Kali ini, Kasih Palestina akan sedikit membahas tentang pandangan Yahudi terkait Masjid Al-Aqsha, menurut versi mereka.

Menurut Ensiklopedia Mini Masjid Al-Aqsha karya Tim Aspac Palestine, sebenarnya, ketika Daud dan Sulaiman dianggap sebagai raja dan bukannya nabi, hal tersebut akan menimbulkan masalah, yaitu pada proyek pembangunan ma’bad (tempat ibadah).

Dalam kitab Taurat disebutkan, orang yang membangunnya adalah Raja Sulaiman, padahal beliau dianggap bukan nabi, sementara perintah Allah Swt untuk membangun tempat ibadah seharusnya ditujukan kepada nabi, bukan raja.

Sulaiman mulai membangun ma’bad suci (orang Yahudi menyebutnya haikal) setelah empat tahun dirinya diangkat menjadi raja. Itu terjadi setelah 480 tahun Israel keluar dari Mesir. Pembangunan sendiri memakan waktu selama 7 tahun.

“Dan terjadilah pada tahun ke empat ratus delapan puluh sesudah orang Israel keluar dari tanah Mesir, pada tahun ke empat sesudah Salomo menjadi raja atas Israel, dalam bulan Ziw, yakni bulan yang kedua, maka Salomo mulai mendirikan rumah bagi Tuhan.”

Kita bisa melihat rentang waktu yang sangat panjang, antara keluarnya Israel dari Mesir menuju pembangunan ma’bad suci, yaitu 480 tahun. Perhatikan rentang waktu berikut ini:

  • Selama 40 tahun Israel tertahan di Padang Tih setelah keluar dari Mesir.
  • Selama 403 tahun tidak penjelasan bahwa Israel uierada di Al-Quds.
  • Selama 33 tahun Daud memerintah Al-Quds, setelah diganti oleh anaknya Raja Sulaiman.
  • Baru 4 tahun kemudian proyek pendirian ma’badsuci oleh Sulaiman dimulai.

Jumlah keseluruhan tahun di atas sebanyak 480 tahun, sesuai dengan isi kitab Taurat. Pertanyaannya adalah selama 403 tahun tidak ada kisah di dalam kitab Taurat tentang Israel di Al-Quds. Padahal, rentang waktu tersebut sangat lama. Hal ini menandakan klaim Yahudi atas tanah suci Palestina tidak berdasar.

Baca Juga: Jatuhnya Al-Aqsha ke Tangan Yahudi Sebabkan Rentetan Penistaan Lainnya

Di dalam akidah, bahasa, dan kitab suci Yahudi, tidak tertera nama “haikal” dan mereka tidak mengenal kata ini sebelumnya. Ketika mereka mengimani sebuah nama di dalam kitab suci dengan sebutan “Beit ha-Mikdash”, itu berarti bait al-maqdis (rumah suci). Nama bait al-maqdis sesuai dengan nama dalam Islam.

Adapun nama “haikal” adalah hasil terjemah terdekat dari bahasa Inggris. Bahasa Inggris tidak mampu menerjemahkan bahasa Ibrani secara tekstual, maka diterjemahkan dengan kata “temple” atau “ma’bad” dalam bahasa Arab. Akan tetapi, mereka menerjemahkan ke dalam bahasa Arab dengan kata “haikal”. Inilah pertama kali kata “haikal” masuk ke dalam bahasa Arab dengan arti kata ‘tempat ibadah Yahudi’.

Sementara itu, asal kata “temple” juga bukan berasal dari bahasa Ibrani, tetapi dari bahasa Latin “templum” yang berarti ‘tempat ibadah’.

Itulah sedikit penjelasan mengenai Al-Aqsha menurut Yahudi. Selengkapnya dapat  dibaca dari sumber rujukan, atau pun sumber-sumber valid lainnya. Semoga bermanfaat! (kimikim/kasihpalestina)

Rekening Donasi: BSM 1001 2016 2 6 (a.n Kasih Palestina)

Call Center (konfirmasi & informasi): 08123 2011 55

Ramadan Bersatu untuk Palestina - Kasih PalestinaBerita

Ramadan Menyatukan Kita

2 Comments

Comments are closed.