Gaza Palestina - Kasih PalestinaBerita

Gaza, Tempat yang Disebut sebagai Rumah

Kasihpalestina.com – Rana Shubair dan keluarga kembali ke Gaza setelah ayahnya menyelesaikan pendidikan S3 di Amerika Serikat. Akan tetapi, ia lantas mendapat pertanyaan aneh dari sekitar; mengapa mereka kembali ke Gaza. Secara sederhana ia pun menjawab, “Aku pulang ke rumah”. Inilah kisah Rana, mengenai perantauan, inspirasi, perjuangan, dan cintanya untuk kampung halaman.

“Ketika ayah menyelesaikan pendidikannya, kami kembali ke Gaza. Kami tidak lepas dari pertanyaan orang-orang yang mempertanyakan alasan kami kembali. Lalu kubilang, aku hanya pulang ke rumah. Dua hari lalu pun, aku ditanyai pertanyaan yang sama dan pertanyaan lain mengenai arti menjadi seorang warga Palestina bagi diriku sendiri. Inilah yang harus aku bilang.

AKU WARGA PALESTINA YANG BANGGA. Aku sadar sepenuhnya bahwa Gaza dapat atau memang, pada faktanya, menjadi tempat paling buruk untuk ditinggali saat ini. Secara resmi, wilayah Gaza dianggap tidak layak tinggal pada tahun 2020 menurut laporan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Akan tetapi, (aku) tidak berterima kasih pada blokade 12 tahun yang dilakukan pendudukan Israel, Gaza memang sudah terjun ke dalam kemiskinan, pengangguran, dan kerugian. Bila kita lihat sekilas, kita akan melihat bahwa sektor kesehatan sudah roboh, air dan udaranya tercemar, lautnya juga sudah terlalu terkontaminasi untuk dinikmati karena limbah yang secara konstan dibuang ke sana, dan warga Gaza paling merasa bahagia ketika mereka dapat menggunakan listrik selama 8 jam sehari.

Semua itu adalah kenyataan pahit di lapangan. Akan tetapi, terlepas dari semua itu, Palestina adalah satu-satunya tempat di muka bumi ini yang bisa kusebut sebagai rumah. Jika aku ingin, aku bisa pindah ke negara lain demi anak-anakku, tapi aku tidak akan melakukannya. Mengapa? Ini bukanlah karena aku yang ingin anak-anakku terperangkap di dalam Gaza. Tidak. Aku ingin mereka melihat dunia dan melihat berbagai macam orang.

Aku adalah orang yang merangkul pertukaran budaya dan aku masih berkomunikasi dengan teman-teman masa kecilku di luar Gaza. Bahkan, beberapa guru yang paling kuingat berasal dari negara yang berbeda. Akan tetapi, aku tetap harus menjawab pertanyaan ini: Apa artinya pindah ke luar Gaza bagi anak-anakku?

Ketika aku tinggal di Amerika Serikat selama masa remajaku, aku menghadapi berbagai permasalahan karena aku menggunakan hijab ke sekolah. Beberapa orang mengolok-olokku, “Ketika kamu menikah, apakah suamimu diizinkan melihat rambutmu?” Atau “Apa kamu hidup di dalam sebuah tenda di padang pasir dan mengendarai unta?” Aku saat itu masih di bawah usia 15 tahun dan kamu dapat membayangkan intimidasi emosional yang aku lalui. Ketika aku mengenang itu dan mengingat xenofobia – yang saat ini menyebar seperti sebuah wabah di banyak negara – aku ngeri membayangkan anak-anakku tumbuh di tempat, di mana mereka kesulitan untuk membuktikan bahwa mereka juga manusia yang perlu dihormati. Fakta menyedihkannya, yang bertentangan dengan keyakinanku mengenai kesetaraan semua orang sebagai ras manusia, adalah bahwa mereka tidak akan pernah cocok untuk lingkungan apa pun kecuali lingkungan mereka sendiri.  Jika mereka memutuskan hidup di tempat lain, mereka harus mengikuti aturan tempat mereka tinggal dan memperjuangkan diri mereka, atau hanya melebur di lingkungan tersebut dan melupakan identitas mereka sendiri. Sebuah pertarungan panjang akan ada di depan mereka. Seseorang mungkin hidup di negara yang disebut modern, namun bisa saja tidak bertoleransi terhadap yang lain – seperti kasus yang saat ini terjadi di banyak negara atas meningkatnya sentimen anti-Islam, dan bahkan di negara-negara Arab juga.

Baca Juga: Imam Masjid Gaza Bercerita

Sebagai orang tua, aku tidak bisa mendikte di mana anak-anakku harus tinggal di masa yang akan datang, namun ketika mereka tumbuh dewasa, mereka akan paham apa yang dimaksud dengan “rumah”.

Aku sadar bahwa pikiran-pikiran ini mungkin tidak dirasakan banyak orang di negeriku saat ini, dan aku tidak bisa menyalahkan mereka. Terkadang aku merasa bahwa kami hidup tertinggal dengan terperangkap di dalam wilayah pemblokadean Gaza. Akan tetapi, memang begitulah adanya – kami terperangkap akibat penindas. Jika kami punya kesempatan, kami akan mengunjungi negara lain, menghadiri acara-acara pendidikan dan budaya, tetapi kami masih menghabiskan waktu di penjara besar ini.

Mengatakan hal-hal tersebut, bukan maksudku bahwa Gaza kehilangan pemikiran-pemikiran hebat – Gaza memiliki para pemikir yang cemerlang. Aku sudah menemui banyak orang dengan pemikiran sangat hebat, yang sudah tinggal seumur hidupnya, di sini, di Gaza. Mereka tidak membiarkan pemblokadean secara fisik merusak otak mereka. Kesaksian asli mengenai hal itu datang dari para tahanan Palestina, yang merupakan salah satu di antara orang-orang paling cerdas di dunia. Mereka ditahan di dalam sel dan dalam kondisi yang tidak manusiawi, namun mereka tetap hidup dengan pemikiran mereka. Satu orang unik dan terkenal yang saat ini muncul di pikiranku adalah mantan tahanan Ahmed Elfaleet. Dia berbicara di acara Tedex mengenai kehidupannya di dalam penjara Israel selama 20 tahun.

Selama warga Gaza terus berdiri dalam menghadapi penindasan dan memperjuangkan hak mereka untuk hidup dengan martabat, kebebasan, dan keadilan – mereka akan menghargai hadiah yang luar biasa di mana tidak satu pun penjajah dapat menguasai itu – yakni hidupnya pikiran, hati, dan jiwa. (kimikim/kasihpalestina)

*Xenofobia – Perasaan benci (takut, waswas) terhadap orang asing atau sesuatu yang belum dikenal; kebencian pada yang serba asing. (Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI))

Sumber. Days of Palestine

Rek. Donasi Masjid Istiqlal Indonesia di Gaza – Palestina:
Bank Syariah Mandiri (451): 500 600 888 9 a.n Kasih Palestina
Konfirmasi donasi: Call/SMS/WA: 08 123 2011 55 (WA: http://bit.ly/kasihpalestina)