Kisah Pilu Pemuda Gaza - Kasih PalestinaBerita

Ali, Pemuda Gaza yang Berlindung dari Pemblokadean dengan Tidur

Kasihpalestina.com – Ali Ahmad memiliki mimpi yang besar. Tapi bangun ke dunia nyata yang kejam, membuatnya mencari perlindungan dalam tidur.

Setelah lima setengah tahun belajar teknik komputer, Ali lulus dengan penuh harapan. Akan tetapi, kebahagiaan segera terhapus setelah ia menghadapi kenyataan yang menyakitkan. Pria itu melamar untuk banyak pekerjaan, tapi hasilnya selalu negatif. Ia pun mengalami kekecewaan. Ali bereaksi terhadap antiklimaks ini dengan menghilang. Pemuda itu hanya menyerah dan lari dari kenyataan mengerikan dengan tidur.

Sejak Ali lulus dari sekolah menengah atas dengan nilai yang tinggi, ayahnya telah tanpa henti untuk menyediakan kebutuhan dan biaya universitas yang diperlukan.

Keluarga Ali memiliki pemasukan yang terbatas. Ayahnya menerima gaji dari pemerintah Gaza – pemerintah yang diblokade oleh pendudukan Israel selama lebih dari 12 tahun. Untuk empat tahun terakhir, dirinya hanya menerima kurang dari separuh gaji karena situasi ekonomi yang sulit, yang dialami Gaza dan pemerintahannya selama 12 tahun terakhir hingga hari ini, sebagai akibat pemblokadean Israel.

Ali menghadapi banyak rintangan ketika menyelesaikan studi universitasnya. Kehidupan keluarga yang sulit membuatnya berada posisi yang sulit, di mana dirinya tidak mampu membeli kebutuhan-kebutuhan dasar untuk universitas atau uang transportasi.

Terlepas dari itu semua, Ali gigih dan terus berharap dapat menyelamatkan keluarganya dari kemiskinan dan memenuhi mimpi ayahnya; menjadi seorang insinyur yang hebat.

Kehidupan Baru Ali

“Setelah saya lulus, saya biasa mengembangkan diri dengan mengambil kursus tambahan di bidang Teknik Komputer, guna meningkatkan kemampuan untuk pasar tenaga kerja,” ucap Ali.

Belakangan ini, situasi di Gaza menjadi lebih buruk dari sebelumnya. Banyak perusahaan yang dikuidasi (dibubarkan) dan banyak orang kehilangan pekerjaan mereka akibat akumulasi hutang.

Ali menyadari bahwa dia tidak akan bekerja di bidangnya, jadi ia memutuskan bekerja di bidang lain. Ia mendapatkan lisensi mengemudi dan mulai bekerja sebagai supir taksi selama dua bulan, namun ia tidak bisa meneruskannya lebih lama. Kebanyakan pemuda bekerja sebagai supir taksi dan mereka semua menghadapi krisis pekerjaan.

Baca Juga: Hidup di Gaza Tidaklah Mudah, bahkan untuk Beribadah

Ia tetap mencari dan bekerja keras untuk menemukan pekerjaan yang lain, hingga dia menyadari bahwa dirinya tidak akan mampu bekerja di bidang selain bidang yang ia cintai, dan yang telah ia pelajari selama lebih dari lima tahun.

Ali Frustrasi dan Putus Asa

“Saya dulu bermimpi, namun saya menyadari bahwa saya lahir di negeri, di mana saya tidak bisa bertahan. Saya tidak punya pilihan, selain mencari perlindungan dalam tidur. Saya akan melarikan diri ke tempat tidur dan mencoba mengusir kekhawatiran saya.”

Alis saat ini berusia 35 tahun. Ia tidak bisa mewujudkan mimpinya, tidak memiliki kebutuhan dasar untuk hidup, belum menikah, dan kecewa.

Pengangguran di Gaza

Menurut Biro Pusat Statistik Palestina untuk 2018, angka pengangguran di Jalur Gaza mencapai angka 49,1% dan merupakan angka yang paling tinggi di dunia. Di antara para pemuda sendiri, angka pengangguran melampaui 55%. Tanpa prospek di cakrawala, para pemuda Gaza menderita secara psikologis dan telah kehilangan arah. Jalan apa pun yang mereka pilih, mereka menemukan pintu-pintu blokade ditutup di hadapan mereka. Seperti Ali, ribuan orang menderita ketika mimpi yang mereka bayangkan dibunuh.

Israel terus mencekik Jalur Gaza untuk membunuh warganya dan menghancurkan harapan mereka akan masa depan yang lebih baik. (kimikim/kasihpalestina)

Sumber. Days of Palestine

Rek. Donasi Masjid Istiqlal Indonesia di Gaza – Palestina:
Bank Syariah Mandiri (451): 500 600 888 9 a.n Kasih Palestina
Konfirmasi donasi: Call/SMS/WA: 08 123 2011 55 (WA: http://bit.ly/kasihpalestina)