Kehidupan di Gaza - Kasih PalestinaBerita

Hidup di Gaza Tidaklah Mudah, Bahkan untuk Beribadah

 

Kasihpalestina.com – Hidup di Jalur Gaza tidaklah mudah. Bukan hanya dikarenakan sejumlah krisis yang menimpa sektor kehidupan, seperti: kesehatan, listrik, air, dan lainnya. Bagi warga Gaza, aktivitas beribadah pun begitu menyulitkan, karena masjid-masjid yang tak lepas dari target serangan Israel.

Pada bulan Januari tahun 2009, serangan udara Israel menargetkan 20 titik di wilayah Jalur Gaza. Selain menyebabkan kematian terhadap 414 orang dalam waktu tujuh hari, serangan pun menghancurkan bangunan-bangunan milik warga dan tempat ibadah (masjid). Masjid Jabaliya yang menjadi sasaran serangan saat itu.

Maju ke tahun 2014 di bulan Agustus, serangan udara Israel kembali terjadi. Hanya menara yang tersisa dari Masjid Al-Qassam di Jalur Gaza. Masjid tersebut juga dikenal sebagai Masjid Agung, dan merupakan satu dari 63 masjid yang telah dihancurkan Israel dalam perang sebulan penuh ketika itu. Banyak warga Gaza bereaksi akan hal yang sama bahwa Israel menyerang agama mereka.

Israel berdalih bahwa fungsi masjid disalahgunakan. Akan tetapi, pada kenyataannya, masjid-masjid yang menjadi target sasaran Israel digunakan juga (selain ibadah) sebagai pusat kesehatan, pendidikan, dan sosial.

Masjid lain yang tidak luput dari serangan adalah Masjid Farouq di kota bagian selatan Rafah, yang menjadi target serangan udara pada 22 Juli dan menyebabkan sejumlah rumah hancur.

Sedikitnya dalam satu serangan, sebuah masjid kuno menjadi sasaran: Masjid Al-Omary abad ketujuh di barak pengungsian Jabaliya, Jalur Gaza bagian utara, di mana berdiri di sebelahnya sebuah masjid dua lantai dengan nama yang sama. Kedua masjid dihancurkan.

Selain itu, Masjid Hamza Ibn Abdul-Mutaleb yang menjulang tinggi di distrik Bukit Cinta, Kota Gaza, memiliki cerita mendalam bagi warga Palestina di sana. Pembangunan masjid tersebut merupakan proyek satu juta dolar, di mana perlu dua tahun untuk pembuatan dan beberapa pekan untuk penyelesaian.

Baca Juga: Penyaluran Tahap Awal Donasi Pembangunan Masjid Istiqlal Indonesia, Gaza

Pembangunan didanai oleh seorang putra dari pebisnis kaya Palestina, yang meninggal dunia tanpa menyadari mimpi seumur hidupnya membangun masjid di tanah kelahiran.

“Bagi kami, masjid tersebut merupakan bayi baru lahir yang harus kami rawat,” ucap Kamal Salim, yang duduk di bangku komite dan mengawasi pembangunan. “Dengan adanya blokade di Gaza, kami kesulitan dalam mencari bahan-bahan bangunan dan donatur menyewa penjaga untuk menghentikan siapa pun, yang mencoba menggunakan bangunan untuk kegiatan selain ibadah.”

Di sisi lain Kota Gaza, di distrik Zeitoun, Kamal Foudah mengingat penyerangan 2 Agustus terhadap Masjid Zaeitoun. Sebelum dini hari, Kamal mengatakan, ia menerima panggilan telepon dengan instruksi: “Pergi bangunkan orang-orang yang tinggal di sekitar masjid dan beri tahu mereka untuk keluar dan pergi ke tempat aman. Kamu punya lima menit untuk melakukannya sebelum kami mengebomnya.”

Ketakutan dan bingung melanda Foudah, tetapi ia tetap melakukan apa yang diperintahkan.

“Aku berteriak ‘Bangun! Keluar, cepat! Yahudi akan mengebom masjid!’ ” ucapnya, berdiri di luar rumahnya, sekitar 30 meter dari masjid.

Penelepon itu berasal dari militer Israel, dan seperti yang diucapkan, serangan udara terjadi 15 menit kemudian, menghancurkan sejumlah rumah namun tidak menewaskan siapa pun.

Itulah cerita sehari-hari yang dialami oleh warga Palestina di wilayah pemblokadean, Jalur Gaza. Mereka kesulitan, bahkan untuk beribadah kepada Sang Pencipta. (kimikim/kasihpalestina)

Sumber. The Japan Times, Guardian

Rek. Donasi Masjid Istiqlal Indonesia di Gaza – Palestina:
Bank Syariah Mandiri (451): 500 600 888 9 a.n http://Kasihpalestina.comKasih Palestina
Konfirmasi donasi: Call/SMS/WA: 08 123 2011 55 (WA: http://bit.ly/kasihpalestina)