Kasihpalestina.com – Bagi seorang Abeer Elhorokly, perempuan Palestina berusia 27 tahun, dampak pendudukan Israel telah dirasakan bahkan sebelum dirinya lahir ke dunia.

Selama Intifadah pertama di tahun 1992, ibu Abeer yang ketika itu tengah mengandung dirinya terpaksa menghirup gas air mata yang disemprotkan oleh tentara Israel. Akibatnya, Abeer lahir dengan sel saraf yang rusak, dan menyebabkan ia harus menggunakan kursi roda ketika beranjak dewasa.

Akan tetapi, keterbatasan tidak membuatnya membatasi diri dalam bermimpi. Abeer memiliki minat besar di bidang olahraga: bola basket dan tenis. Timnya telah mencapai posisi pertama di Liga Bola Basket Gaza selama tiga kali berturut-turut, dan dia bercita-cita untuk berkompetisi di tingkat internasional di cabang tenis untuk atlet yang memiliki disabilitas.

Bagaimanapun, dengan pemblokadean di Gaza selama 12 tahun ini, banyak warga Palestina – difabel atau pun bukan – sangat sulit mendapatkan kesempatan seperti itu.

Pasar kerja Gaza masih stagnan dengan angka pengangguran yang mencapai 44 persen, tetapi untuk para penyandang disabilitas persentase mencapai 90 persen.

Baca Juga: Ensiklopedia Palestina: Penaklukan Al-Quds (Bagian 1)

Abeer lulus dua tahun lalu dengan gelar sarjana (BA) dengan program studi Hubungan Masyarakat dan Media, dan tengah mencoba mendapatkan pekerjaan.

Hukum perburuhan Palestina menetapkan bahwa lima persen dari tenaga kerjanya haruslah mencakup penyandang disabilitas. Akan tetapi, hal itu tidaklah terjadi di lapangan, ungkap Abeer.

“Saya ingin menjadi seorang jurnalis besar dan membuktikan bahwa kami mampu. Untuk menjadi jurnalis dan memiliki disabilitas dalam waktu bersamaan, merupakan tantangan sebenarnya dan saya suka tantangan,” tutupnya. (kimikim/kasihpalestina)

Sumber. Aljazeera

Rek. Donasi: Bank Syariah Mandiri (451): 1001 2016 2 6 a.n Kasih Palestina
Konfirmasi donasi: Call/SMS/WA: 08 123 2011 55 (WA: http://bit.ly/kasihpalestina)