Kasihpalestina.com – Memperingati Hari Ibu yang jatuh pada 22 Desember 2018, kembali mengingatkan betapa istimewa dan tangguhnya sosok ibu. Di Palestina pun, sosok-sosok ibu begitu luar biasa. Di tengah penjajahan yang mencekik, mereka memiliki jiwa yang tangguh dan berhasil melahirkan generasi-generasi pejuang.

Dilansir dari News.detik.com, Manal Tamimi, sosok ibu hebat Palestina ini berbagi cerita bagaimana gambaran perjuangan ibu-ibu di Palestina. Manal pernah mengungkapkan bahwa menjadi seorang ibu di Palestina sama dengan menjadi seorang aktivis. Dua peran tersebut nyaris sulit dipisahkan. Ibu-ibu hebat itu harus selalu mengawasi dan melindungi anak-anak mereka dari kejahatan tentara Israel.

Manal mengatakan, “ Saya dapat katakan, 90 persen ibu di Palestina pasti pernah merawat anak mereka yang terluka, atau berupaya membebaskan anak yang ditahan aparat Israel.”

Hal tersebut tidaklah dilebih-lebihkan. Contohnya adalah putra sulungnya, Osama. Selama dua bulan Manal harus merawat putranya yang nyaris buta akibat terkena tembakan gas air mata. Sementara itu, putra keduanya, Hamada, pun pernah dua kali terluka. Salah satunya dikarenakan peluru jenis caliber 22, yang menembus kakinya.

Bersama suaminya, Bilal, Manal menetap di Desa Saleh yang berpenduduk 600 jiwa dan berjarak sekitar 20 kilometer sebelah barat laut Ramallah. Perjuangan ibu hebat ini ditemani sang suami. Mereka berdua aktif di sebuah media lokal. Biasanya, Bilal membuat dokumentasi dalam bentuk film dan foto setiap kali aksi unjuk rasa di desanya, sedangkan Manal mengunggahnya di akun media sosial Twitter.

“Kami ingin dunia melihat apa yang setiap hari dilakukan militer Israel di tanah kami,” jelas Manal.

Manal menyebut aksi nekad tersebut demi masa depan anak-anak dan generasi muda Palestina, dalam mempertahankan juga memperjuangkan hak-hak mereka dari kesewenang-wenangan Israel.

Baca Juga: 15 Anggota Keluarga Palestina Ditembak Zionis selama Aksi Kepulangan Akbar

Menjadi ibu di wilayah penjajahan, membuat perempuan-perempuan Palestina kesulitan dalam menjelaskan kepada anak-anak mereka (yang masih balita) mengenai situasi yang terjadi. Kebanyakan dari anak-anak terbiasa melihat teman dan atau anggota keluarganya dipukul, ditahan, bahkan dibunuh oleh tentara penjajahan Israel. Hal seperti itu pernah dialami langsung oleh dirinya. Ia pernah sekali ditahan dan ditembak oleh Israel. Akibatnya, salah satu putri Manal mengalami trauma. Maka untuk sementara waktu, Manal memutuskan berhenti berunjuk rasa. Selain demi menenangkan sang putri, juga untuk memulihkan luka-luka di tubuhnya.

Saat ini, Manal Tamimi menjadi tuan rumah bagi para jurnalis dan aktivis yang datang ke Desa Nabi Saleh. Ia tak sungkan menjamu para pendemo meski tubuhnya lelah karena bertugas di jalan sepanjang hari. Menurutnya, “Berjuang tidak bisa hanya dengan satu cara.”

Itulah satu dari sekian banyak cerita hebat di tanah perjuangan Palestina. Bagaimana ibu-ibu di Palestina tidak hanya membesarkan anak menjadi putra-putri berbakti, tapi juga untuk memahamkan anak-anak akan situasi yang terjadi, dan mendidik mereka menjadi anak-anak yang luar biasa. (kimikim/kasihpalestina)

Rek. Donasi Masjid Istiqlal Indonesia di Gaza – Palestina:
Bank Syariah Mandiri (451): 500 600 888 9 a.n Kasih Palestina
Konfirmasi donasi: Call/SMS/WA: 08 123 2011 55 (WA: http://bit.ly/kasihpalestina)