Ensiklopedia Palestina - Kasih PalestinaAl-Aqsha

Ensiklopedia Palestina: Penaklukan Al-Quds (Bagian 2)

Kasihpalestina.com – Kembali ke edisi ensiklopedia Kasih Palestina. Pekan ini, ensiklopedia akan berlanjut mengenai sejarah penaklukan Al-Quds di masa Umar bin Khattab, dilansir dari Ensiklopedia Palestina Bergambar oleh Dr. Thariq As-Suwaidan. Sebelumnya, sudah dibahas mengenai pencabutan posisi Khalid bin Walid sebagai pemimpin pasukan, yang digantikan oleh Abu Ubaidah, hingga mereka melakukan pengepungan dan Patriark yang ingin bertemu dengan Umar bin Khattab. Kalau begitu, langsung saja!

Terjadilah pengepungan Baitul Maqdis yang berlangsung lama dan sulit untuk ditaklukkan, hingga mencapai empat bulan lamanya. Selama itu pula, kaum Muslim memutus seluruh akses keselamatan bagi Romawi dan mempersulit seluruh sarana juga prasarana penunjang hidup. Akan tetapi, mereka tak kunjung menyerah.

Setelah pihak Nasrani menghadapi kesulitan hebat, akhirnya Patriark melalui beberapa utusan yang dikirim, meminta kaum Muslim memberitahukan seperti apa ciri-ciri pemimpin mereka di Madinah.

Ketika diberitahukan, ternyata ciri-ciri yang disebutkan sesuai dengan apa yang tertera di dalam kitab-kitab suci mereka. Akhirnya, Patriark meminta perundingan dengan panglima pasukan Islam.

Abu Ubaidah kemudian datang menemui Patriark, lalu Patriark bertanya kepadanya, “Mengapa kau ingin menaklukkan negeri suci ini? Siapa pun yang mendatangi negeri ini dengan maksud jahat, Allah nyaris saja murka dan membinasakannya.”

Abu Ubaidah menjawab kata-katanya, “Negeri ini adalah negeri mulia. Di sana, nabi kami dibawa naik ke langit hingga beliau sedekat dua busur panah atau bahkan lebih dekat (dengan Jibril). Negeri ini adalah tanah asal para nabi dan makam-makam mereka berada di negeri ini. Kami lebih berhak atas negeri ini dari pada kalian. Kami akan tetap menyerang negeri ini sampai Allah memberikannya kepada kami, seperti Ia memberi kami negeri-negeri lain.”

Patriark bertanya, “Lalu apa yang kau inginkan dari kami?” Abu Ubaidah menjawab, “Satu dari tiga pilihan; Islam, pajak, atau perang.”

Patriark pun akhirnya setuju untuk berdamai, namun ia mensyaratkan agar jangan ada seorang muslim pun yang memasuki Al-Quds sebelum Amirul Mukminin Umar bin Khattab.

Umar bin Khattab di Al-Quds

Dikirimlah utusan oleh Abu Ubaidah untuk menyampaikan berita kepada Umar bin Khattab. Umar kemudian berkata, “Aku akan datang padamu.”

Umar berangkat dengan menunggang kendaraan dari Madinah menuju Palestina, sehingga perjalanan tersebut menjadi perumpamaan bagi akhlak para raja. Dirinya berangkat seorang diri dan hanya didampingi oleh seorang pelayan miliknya, dengan mengendarai seorang unta. Umar dan pelayannya bergantian menunggangi unta.

Andai mau, tentu Umar diberangkatkan dalam sebuah pawai besar-besaran menuju Al-Quds hingga bumi terbelah diinjak kaki-kaki parade kuda. Akan tetapi, ia ingin memberikan pelajaran kerendahan hati bagi raja-raja bumi, juga pelajaran kemuliaan hanya bersama Allah, bukan dengan yang lain.

Ketika Umar dan pelayannya tiba di Al-Quds, tibalah giliran pelayan yang menunggangi unta. Pelayan itu bermaksud berjalan lebih dulu di hadapan Amirul Mukminin, agar orang-orang melihatnya dalam posisi menunggangi unta, tetapi Umar enggan menerima permintaan dari pelayannya. Maka, Umar pun memasuki Al-Quds dengan berjalan kaki sementara pelayannya menunggangi unta.

Saat melihat kedatangan Umar, kaum Muslim memekikkan takbir dan tahlil. Umar  mendekati pasukan. Rupanya, ia mengenakan pakaian sangat sederhana dengan banyak robekan di beberapa sisi.

Orang-orang Nasrani melihat pemandangan aneh tersebut melalui benteng-benteng Al-Quds. Andaikan dapat berkata, tentu kondisi mereka akan mengatakan, “Inikah pemimpin tertinggi seluruh pasukan besar ini?”

Setelah itu, Umar tiba di daerah aliran sungai yang dipenuhi lumpur. Sekali lagi, pelayan dari Umar mencoba agar amir-nya naik unta karena dikhawatirkan pakaiannya terkena lumpur dan basah, tapi Umar tetap berkata kepada pelayannya, “Naiklah!”

Pelayan itu naik, sedangkan Umar menarik unta mengarungi aliran sungai, melepas kedua sandal lalu menentengnya sambil menarik unta. Seorang orang melihat pemandangan ini dengan merasa aneh.

Abu Ubaidah tidak tahan melihat pemandangan tersebut. Dia langsung menghampiri Umar bin Khattab dan berkata, “Wahai Amirul Mukminin! Hari ini kau telah melakukan hal besar di mata penduduk dan setempat. Maukah kau…”

Belum juga Abu Ubidah selesai bicara, Umar lebih dulu menepuk dadanya dan berkata seraya menegur, “Andai saja bukan kamu yang mengatakan seperti itu, wahai Abu Ubaidah. Dulu, kita adalah kaum hina lalu Allah memuliakan kita dengan Islam. Dulu, kita lemah lalu Allah memperkuat kita.”

Melihat pemandangan tersebut, Patriark merasa gentar dan takut. Islam nampak agung di matanya, lalu ia berkata kepada kaumnya, “Tak seorang pun di dunia ini yang mampu menghadapi mereka ini. Serahkan saja Al-Quds kepada mereka, niscaya akan selamat.”

Baca Juga: Ensiklopedia Palestina: Penaklukan Al-Quds (Bagian 1)

Akhirnya, perjanjian di antara kedua belah pihak dikukuhkan, lalu Umar memberi jaminan aman di Al-Quds, memberikan jaminan aman untuk ibadah, gereja, dan semua hal yang mereka anggap suci; semuanya dijamin tidak akan dihancurkan atau pun diusik.

Hingga akhirnya Al-Quds mengenal penakluk yang paling sayang padanya sepanjang sejarah, karena sepanjang sejarah yang pernah dilalui Al-Quds seperti yang telah kami sampaikan sebelumnya, setiap penakluk yang menyerang Al-Quds, pasti meruntuhkan kota tersebut secara keseluruhan, serta membunuh penduduk setmpat. (kimikim/kasihpalestina)

Rek. Donasi: Bank Syariah Mandiri (451): 1001 2016 2 6 a.n Kasih Palestina
Konfirmasi donasi: Call/SMS/WA: 08 123 2011 55 (WA: http://bit.ly/kasihpalestina)

Ramadan Bersatu untuk Palestina - Kasih PalestinaBerita

Ramadan Menyatukan Kita