Penaklukan Al-Quds - Kasih PalestinaAl-Aqsha

Ensiklopedia Palestina: Penaklukan Al-Quds (Bagian 1)  

 

Kasihpalestina.com – Pada edisi ensiklopedia kepalestinaan pekan ini, Kasih Palestina akan membahas bagian pertama mengenai sejarah penaklukan kota Al-Quds yang terjadi pada tahun 636 Masehi. Langsung saja, yuk!

Pada tahun 15 Hijriah, Umar bin Khattab mencabut posisi Khalid bin Walid sebagai pemimpin pasukan dan menunjuk Abu Ubaidah ra sebagai gantinya. Abu Ubaidah kemudian mengirimkan utusan untuk menemui para komandan pasukan, meminta saran dan pendapat mereka, guna menentukan sasaran yang hendak dituju.

Para komandan pasukan lalu berkata, “Mintalah saran dan pendapat Amirul Mukminin.”

Abu Ubaidah pun mengirim utusan untuk menemui Amirul Mukminin. Kemudian, Umar atau Amirul Mukminin akhirnya menyarankan Abu Ubaidah agar bergerak menuju Al-Quds. Saran tersebut kemudian membuat pasukan Muslim gembira bukan kepalang, karena selama ini mereka selalu bersabar menanti waktu untuk bisa salat di Masjid Al-Aqsha.

Pasukan bergerak menuju kota Al-Quds secara keseluruhan, termasuk di antaranya Khalid bin Walid, Yazid bin Abu Sufyan, Syurahbil bin Hasanah, dan para tokoh lainnya. Pengepungan terhadap benteng-benteng Al-Quds pun dimulai, dan tidak lama setelah itu peperangan di antara kedua kubu juga dimulai.

Peperangan terjadi selama sepuluh hari berturut-turut, di mana pasukan Romawi tetap bertahan secara kokoh dan melakukan aksi berani dalam mempertahankan benteng terakhir di Syam. Tidak seperti Yahudi, Romawi menunjukkan keberanian dan keteguhan. Sikap tersebut memang dikenal dalam sejarah, namun mereka tidak kuat menghadapi penaklukan dan kekuatan Islam.

Abu Ubaidah Tiba di Al-Quds

Lalu pada tanggal 11, Abu Ubaidah Amir bin Jarrah tiba di Al-Quds. Begitu tiba di sana, kaum Muslim memekikkan takbir begitu keras hingga menggentarkan hati pasukan Romawi, dan rasa takut menyelusup ke dalam jiwa mereka karena belum pernah mendengar pekikan takbir seperti itu.

Mereka mengira bahwa Amirul Mukminin datang ke Al-Quds sebagai seorang penakluk. Mereka lantas memberitahukan hal tersebut kepada Patriark yang kemudian menanggapi, “Demi hak injil! Jika memang pemimpin mereka datang, maka kebinasaan kalian sudah di ambang pintu.”

Mereka heran mendengar kata-kata Patriark ini, lalu berkata, “Bagaimana bisa seperti itu?”

Baca Juga: Difabel Gaza Pengedara Sepeda: Cobalah, karena Hidup Itu Mengenai Mencoba!

Patriark berkata, “Kami mendapati di dalam ilmu ramalan-ramalan yang kami warisi bahwa orang yang akan menaklukkan bumi ini dari ujung ke ujung, termasuk di antaranya Palestina, adalah seorang lelaki berkulit sawo matang, tinggi, dan besar matanya. Jika memang ia sudah datang, kalian tidak akan berdaya memeranginya. Maka serahkanlah (Al-Quds) kepadanya.”

Ciri-ciri yang disebut oleh Patriark adalah ciri-ciri Umar bin Khattab. Setelah itu, Patriark menemui kaum Muslim untuk mengenali pemimpin mereka yang dikiranya merupakan Umar bin Khattab. Setelah tahu bahwa yang datang bukanlah orang yang dimaksud, dia langsung kembali pada kaumnya dan memerintahkan mereka untuk meneruskan peperangan. (kimikim/kasihpalestina)

Rek. Donasi: Bank Syariah Mandiri (451): 1001 2016 2 6 a.n Kasih Palestina
Konfirmasi donasi: Call/SMS/WA: 08 123 2011 55 (WA: http://bit.ly/kasihpalestina)