Pahlawan Wanita Palestina-Kasih PalestinaBerita

Naila Ayesh, ‘Pahlawan’ Wanita Palestina di Intifadah Pertama

Kasihpalestina.com Hari Pahlawan jatuh pada tanggal 10 November. Berbicara tentang pahlawan, begitu banyak cerita mengenai para pahlawan baik di masa lalu pun, di zaman milenial ini. Akan tetapi, banyak yang belum tahu bahwa ada sesosok “pahlawan” bergender perempuan di Palestina, yang berjuang dalam Intifadah Pertama.

Naila Ayesh, duduk di lobi hotel di pusat London, memakai sweter dan tersenyum begitu cerah. Ia tampak jauh dari kengerian yang dideritanya sebagai seorang aktivis muda Palestina di tahun-tahun menjelang Intifadah Pertama, yang berlangsung dari 1987 sampai 1993.

Naila and the Uprising, oleh sutradara film Julia Bacha, mendokumentasikan perjuangan-perjuangan yang luar biasa ini, secara bersamaan mengungkap karya para wanita Palestina yang tidak dikenal yang membentuk kekuatan gerakan perlawanan.

Pahlawan Wanita Palestina-Kasih Palestina
Keterangan foto: Kisah Naila Ayesh ditampilkan dalam film dokumenter Naila and the Uprising oleh Julia Bacha. (Sumber. Middle East Eye)

Ayesh menekankan bahwa dokumenter berdurasi 76 menit tersebut, yang diberi nama menurut namanya, bukanlah mengenai dirinya secara penuh. Bagi Ayesh, itu mengenai setiap wanita Palestina yang pernah berjuang untuk pembebasan dari pendudukan Israel.

Perempuan sering kali menjadi “tulang punggung” pergerakan, kemudian ditulis sejarah atau tidak pernah ditulis ke dalam sejarah di bagian depan.

“Film ini bukanlah cerita saya. Kami berjuang melawan pendudukan bersama-sama, sebagai wanita. Cerita saya adalah salah satu dari begitu banyak cerita,” ucapnya.

Kisah Perjuangan Ayesh

Sebagai anak berusia delapan tahun pada 1969, Ayesh menyaksikan akibat dari penghancuran rumah keluarganya di Palestina oleh tentara Israel.

Peristiwa tersebut akan menyalakan apa yang ia sebuah sebagai “permusuhan” terhadap militer pendudukan, yang kemudian ia salurkan ke dalam aktivismenya. Hasilnya, pilihan pribadi Ayesh tidak dapat diubah lagi dengan aspirasi politiknya.

Baca juga: Musim Dingin Mereka, Samakah dengan Musim Dingin di Gaza?

“Politik dan pribadi adalah satu dan sama bagi saya,” ucap Ayesh. “Faktanya, kehidupan sehari-hari di Palestina merupakan politik untuk seluruh warga Palestina.”

Ayesh dipukuli, dibiarkan kedinginan dan kehujanan sepanjang malam, diikat di kursi dan diseret di lantai selama masa penahanannya.

“Untuk berada di sini dan berbicara mengenai cerita ini bukanlah sesuatu yang mudah bagi saya,” Ayesh memberi tahu seorang hadirin di Barbican selama acara tahunan Human Rights Watch Film Festival di London, yang dibuka bersama Naila and the Uprising dalam Peringatan Hari Wanita Internasional.

“Ini benar-benar membawa saya kembali ke luka yang ketika itu saya rasakan, dan setelah semua luka itu, hingga saat ini, di sini kita berada, (Palestina) masih berada di bawah penjajahan.”

Rasa sakit yang diceritakan Ayesh memanglah suram. Tapi ia tidak menyerah dan bahkan terus berjuang dengan menuntut ilmu ke negeri Bulgaria, demi memperjuangkan kemerdekaan Palestina dengan cara yang lain. (kimikim/kasihpalestina)

Sumber. Middle East Eye

Rek. Donasi: Bank Syariah Mandiri (451): 1001 2016 2 6 a.n Kasih Palestina
Konfirmasi donasi: Call/SMS/WA: 08 123 2011 55 (WA: http://bit.ly/kasihpalestina)