Kreatifitas Warga Gaza Penuhi Kebutuhan Hidup-Kasih PalestinaBerita

Dua Bersaudara Asal Gaza Buat Dekorasi untuk Penuhi Kebutuhan Hidup

Kasihpalestina.com – Inspirasi pekan ini datang dari dua orang bersaudara di wilayah pemblokadean Gaza-Israel. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, mereka memproduksi hiasan dekoratif dari ranting pohon, dilansir dari laman Anadolu Agency.

Beberapa bulan lalu, Nidal dan Heba Nanhale, kakak beradik yang berusia 20 dan 23 tahun, mendekorasi meja kopi dengan ranting pohon zaitun dan cemara. Mereka memotong ranting-ranting itu menjadi lempengan-lempengan bundar sebelum melapisinya dengan cat dan pernis, memberikan kesan akhir yang otentik dan natural pada produk. Sejak itu, keduanya menyempurnakan teknik untuk meghasilkan semua macam keranjang, baki, cermin dan bingkai foto, bersama dengan barang-barang rumah tangga dan aksesori lainnya.

Berbicara pada Anadolu Agency mengenai pekerjaan mereka, kedua kakak beradik itu menjelaskan bagaimana mereka telah menyelesaikan studi kelayakan sebelum terjun ke bisnis baru tersebut.

Heba, yang membuat desain untuk hampir seluruh produk, lulus dari Departemen Pelayanan Sosial Gaza, mengatakan, “Saya tidak dapat menemukan pekerjaan setelah lulus. Beruntung, kakak saya dan saya kini dapat mencari nafkah melalui karya artistik kami.”

“Saya telah menjadi relawan untuk dua organisasi yang mengabdi untuk membantu kebutuhan warga Gaza, tetapi saya perlu pekerjaan untuk memenuhi kebutuhan finansial,” tambahnya.

Heba, yang mengurus laman Facebook untuk menunjukkan pekerjaan mereka, mengatakan bahwa dirinya bersyukur karena akhirnya dapata menemukan pekerjaan, menyatakan bahwa ribuan lulusan universitas di Gaza masih belum memiliki pekerjaan.

Baca juga: Al-Aqsha, Kiblat Pertama Umat Muslim

Ia juga menyatakan bahwa dirinya dan sang kakak, sebagian besar menggunakan ranting zaitun, cemara, ara, dan jeruk limun sebagai bahan dasar. Heba mengatakan puluhan rumah di Gaza telah membeli dan menggunakan produk mereka.

Masalah terbesar yang mereka hadapi, ucap Heba, adalah seringnya pemadaman listrik terjadi, yang telah menjadi endemik di Gaza.

“Ketika listrik tersedia, kami sering kali harus bekerja delapan jam secara langung tanpa istirahat,” ungkap seniman muda itu.

Nidal, untuk bagiannya, menyesali dampak merugikan dari adanya pemblokadean 12 tahun Israel di Jalur Gaza. Ia mengatakan bahwa hal itu telah menyulitkan – jika tidak mustahil – untuk menemukan bahan-bahan yang mereka perlukan.

Terkait kesulitan ekonomi yang kronis di Gaza, Nidal menyatakan bahwa banyak pemuda Gaza yang mencoba menemukan sumber pendapatan alternatif melalui proyek-proyek individu. (kimikim/kasihpalestina)

Rek. Donasi: Bank Syariah Mandiri (451): 1001 2016 2 6 a.n Kasih Palestina
Konfirmasi donasi: Call/SMS/WA: 08 123 2011 55 (WA: http://bit.ly/kasihpalestina)

Ramadan Bersatu untuk Palestina - Kasih PalestinaBerita

Ramadan Menyatukan Kita