Tragedi Sabra dan Shatila, Peristiwa Berdarah yang DilupakanArtikel

Tragedi Sabra dan Shatila, Peristiwa Berdarah yang Dilupakan

 

Tragedi Sabra dan Shatila, Peristiwa Berdarah yang Dilupakan

Sumber foto. Palestine News Network

Kasihpalestina.com – 16 hingga 18 September 1982 adalah tragedi berdarah yang tidak mungkin dilupakan khususnya bagi warga Palestina. Pada peristiwa itu, ribuan pengungsi Palestina di Lebanon, tepatnya di Sabra dan Shatila, dibantai, dilansir dari Electronicintifada.net.

Pembantaian yang dilakukan oleh Phalange, milisi Maronite Kristen, bekerja sama penuh dengan Israel, merupakan salah satu episode mengerikan dari sejarah. Akan tetapi, hal itu masih luput dari ingatan warga Lebanon.

Para pelaku pembantaian pun masih hidup dan dapat ditemui di dalam maupun di luar Lebanon; juga mereka yang menyaksikan kejadian dan selamat dari pembantaian, mereka yang kehilangan orang-orang terkasih. Mereka masih menunggu keadilan yang semestinya ditegakkan.

Salah satu pengungsi yang selamat dari kejadian naas tersebut, menceritakan kembali apa yang terjadi pada saat itu.

Pada 16 September 1982, Jameela Khalifeh adalah seorang remaja putri. Di flatnya yang suram di Sabra, ia menceritakan kembali peristiwa yang terjadi 36 tahun lalu.

“Saya berusia 16 tahun dan baru saja bertunangan,” ucap Jameela. “Saya tinggal di rumah orang tua dengan 3 saudara perempuan dan 1 saudara laki-laki.”

“Kami tidak akan lupa,” mengeluarkan sebuah foto, ia menambahkan: “Ini adalah ayah saya Mohammed Khalifeh, gambar ini diambil setelah mereka menembaknya di kepala dan menelantarkan jenazahnya di jalanan.”

Di belakang foto itu, terdapat sertifikat yang dikeluarkan oleh Organisasi Pembebasan Palestina (Palestine Liberation Organization (PLO)). Di sertifikat tersebut tertera nama Mohammed dan kata-kata “Maka kami tidak akan lupa”.

“Pada 16 September, selama penyerangan, tentara Israel mendatangi barak dari Stadion Olahraga Kota yang berlokasi di puncak bukit yang menghadap ke arah barak. Kami tahu bahwa mereka ditempatkan di dalam stadion dan para tentara  itu tahu bahwa fedayeen (para pejuang PLO) telah mengosongkan stadion, oleh karena itu kami saling percaya bahwa mereka tidak akan membunuh kami, keluarga yang tak bersenjata.

Baca juga: TAK KEHILANGAN HARAPAN, MESKI ISRAEL TELAH RENGGUT KAKI KIRINYA

“Di samping tentara-tentara Israel terdapat militan Phalange yang berbicara dalam dialek Lebanon; setiap militan berpakaian lengkap dengan topi koboi dan sebuah gelang putih dengan cedar hijau di atasnya (logo partai politik kaum Falangis). Saya ingat para tentara Israel berbicara dalam bahasa Arab yang buruk kepada militan Lebaon, namun banyaknya mereka berbicara dalam bahasa Ibrani. Ibu saya mengerti bahasa Ibrani sejak ia terbiasa tinggal di Palestina sebelum 1948.

“Ketika kami melarikan diri, kami dihentikan oleh militan Phalange yang menodongkan senjatanya ke arah perut ibu, akan tetapi tentara Israel memberi tahu militan itu, ‘Jangan bunuh wanita itu dan bayinya; kita di sini untuk membunuh para pria saja.’ Kami keluar ke jalan; ayah saya sedang bersama kami di tempat perlindungan di bawah gedung, dan para tentara – bersama militan – mulai memanggil kami melalui mikrofon, memaksa kami untuk keluar dari tempat perlindungan, mengumumkan: ‘Jika kalian menyerahkan diri, kalian akan selamat.’

“Kami keluar dari tempat persembunyian ke jalan; Saya ingat bau amis yang menguar dan saya sedang melambaikan sepotong kain berwarna putih. Ayah saya akhirnya keluar bersama kami dari tempat perlindungan. Saya memastikan untuk berada di sisinya; saya sangat dekat dengan ayah, memegang tangannya begitu erat.

“Momen ketika kami muncul, kami langsung dibawa oleh tentara Israel dan militan Lebanon. Saat itu ayah saya menjadi gelisah. Dia melihat saya dan berbisik, ‘Ayah akan ke rumah.’ Ketika kami bergabung dengan keluarga lain, ayah panik, melepaskan genggaman saya dan berlari ke rumah. Saat tiba di rumah, ia melihat para militan di dalamnya, sedang mencari, segera ia berlari kembali pada kami.

“Ketika ia berlari menuju kami: mereka menembak ayah di kepala.

“Kami dulu tinggal di jalan Hay Al-Gharbi di dekat toko kelontong Doukhi. Di lingkungan kami hanya keluarga saya dan tetangga kami yang selamat dari pembunuhan, sisanya telah dibunuh.

“Tentara Israel dan kaum Falangis memimpin kami dalam barisan, untuk membunuh kami seperti yang mereka lakukan pada yang lainnya. Beruntungnya, kami berhasil kabur melalui jalan kecil.

“Puluhan tahun setelah pembantaian, lihatlah bagaimana kami hidup. Kami adalah tujuh orang yang tinggal di dua ruangan kecil. Kehidupan kami memburuk selama puluhan tahun terakhir; kami masih tidak bisa bekerja dan keluar dari barak ke tempat yang layak.”

Akan ada hari ketika Lebanon menghancurkan ketabuan mengenai pembantaian Sabra dan Shatila, juga keadilan yang kemudian ditegakkan. Akan tetapi, hingga hari itu datang, para pengungsi Palestina akan tetap termarginalisasi, hidup dalam kondisi yang tidak manusiawi di dalam barak yang begitu sesak. (kimikim/kasihpalestina)

Rekening Donasi: BSM 1001 2016 2 6 (a.n Kasih Palestina)
Call Center (konfirmasi pengiriman & informasi lebih lanjut): 08123 2011 55