Alquran Tetap di Hati, Meski Beprestasi di Bidang LainAl-Aqsha

Alquran Tetap di Hati, Meski Beprestasi di Bidang Lain

 

Alquran Tetap di Hati, Meski Beprestasi di Bidang LainSumber foto. Google (ilustrasi)

Kasihpalestina.com – Alquran begitu dicintai oleh masyarakat Muslim Palestina, termasuk oleh para pemuda. Meski ada sebagian dari mereka yang serius di luar bidang agama, mereka tetap menjaga kedekatannya dengan Alquran dan menjadi penghapal kitab suci tersebut.

Dilansir dari Arrahmah.com, Imam Masjid Gaza sekaligus dosen dari Universitas Islam Gaza, Syekh Mahmud Hashem Anbar dan Syekh Hani Rafiq Hameed Awwad, berbagi mengenai para pemuda yang serius di bidang olahraga sepak bola namun tetap mampu menghapalkan Alquran.

Dalam Konferensi Internasional Al-Quds dan Palestina di Bandung, beberapa tahun silam, Syekh Hani menjelaskan bahwa pada dasarnya Islam tidak melarang secara khusus terkait bermain sepak bola, bahkan Islam mengajarkan bagaimana Muslim yang kuat lebih baik dibandingkan Muslim yang lemah, seperti dengan menganjurkan seorang Muslim berlatih berkuda, berenang, memanah dan bergulat.

Baca juga: Ketika Krisis Air Gerogoti Jalur Gaza

“Hanya saja, kita perlu mengatur waktu agar suatu olahraga tidak mengganggu hal lainnya,” ucap dosen jurusan Hukum di Universitas Islam Gaza tersebut.

Di wilayah Gaza sendiri banyak masyarakat yang menyukai olahraga, termasuk sepak bola, tetapi aktivitas tersebut tidak mengganggu para pemuda menjalankan kewajiban mereka dalam menimba ilmu agama. Para pemuda tetap mampu menjadi penghapal Alquran dan terlibat dalam aktivitas perjuangan melawan Israel.

“Salah seorang tawanan Palestina di penjara Israel bahkan merupakan seorang pemain sepak bola berprestasi. Akan tetapi, dia juga merupakan orang yang menjaga perbatasan dalam rangka berjihad, dan seorang penghapal Alquran,” jelas Syekh Hani.

Palestina juga mempunyai dua orang pemain sepak bola berprestasi yakni Ahmad Kaskas dan Mahmud Zirziq, yang pernah bermain di Barcelona bersama Lionel Messi.

“Mereka adalah aktivis masjid dan hapal 30 juz Alquran. Saya sendiri yang mendidik Ahmad Kaskas dengan ilmu agama di masjid,” ungkap Syekh Hani.

Selain itu, Syekh Mahmud menjelaskan bahwa di dalam protokol Zionis disebutkan bahwa sepak bola menjadi alat untuk menyibukkan para pemuda, agar mereka lupa dengan agamanya.

“Akan tetapi, di Gaza, kami sudah menyadarinya. Hingga saat ini, alhamdulillah, di Gaza tidak terlalu mengkhawatirkan, karena para pemuda di sana tetap memenuhi masjid untuk belajar agama dan menghapal Alquran,” ucap dosen jurusan Tafsir dan Sunah di Universitas Islam Gaza.

“Kekhawatiran mengenai anak-anak dan pemuda Palestina yang meninggalkan semangat jihad dan mengganti idola mereka dengan pemain bola, insya Allah tidak terjadi. Karena kami terus mengawal mereka untuk mencintai para pejuang dan syuhada,” jelas Syekh Mahmud. (kimikim/kasihpalestina)

Rekening Donasi: BSM 1001 2016 2 6 (a.n Kasih Palestina)
Call Center (konfirmasi pengiriman & informasi lebih lanjut): 08123 2011 55