Wanita-wanita Sehebat Ahed Tamimi di Tanah PalestinaArtikel

Wanita-wanita Sehebat Ahed Tamimi di Tanah Palestina

 

 Wanita-wanita Sehebat Ahed Tamimi di Tanah Palestina

Keterangan foto: Ahed Tamimi ketika diwawancara setelah bebas dari tahanan Israel. (Sumber. Aljazeera)

 

Kasihpalestina.com – Perjuangan heroik wanita Palestina tidak hanya berasal dari ikon perlawanan, Ahed Tamimi. Banyak cerita lain yang begitu menginspirasi, namun belum terjamah media. Penulis di Aljazeera, Ramzy Baroud, kemudian mengulas kisah beberapa wanita hebat Palestina, yang patut diangkat dan dibagikan ke masyarakat. Dua di antaranya akan sedikit diulas.

Lamia Ahmed Hussein

Wanita asal Khan Younis, Jalur Gaza, yang berusia 37 tahun. Ketika suami Lamia, Ghazi Abu Mustafa (43), dibunuh oleh penembak jitu (sniper) Israel pada 27 Juli lalu di pagar perbatasan yang memisahkan Gaza dari Israel, dirinya sedang bertugas sebagai paramedis sukarelawan.

Lamia sebenarnya berasal dari kota B’ir Al-Saba’a di wilayah bersejarah Palestina. Keyakinannya akan “hak pulang ke rumah” telah memotivasi Lamia untuk bergabung di aksi damai “Great Return March (Kepulangan Akbar)” pada 30 Maret lalu.

Keputusannya didukung penuh oleh sang suami Ghazi, yang juga bergabung di aksi damai pada hari pertama. Lamia menawarkan diri untuk menjadi sukarelawan sebagai paramedis, menolong ratusan orang yang terluka setiap hari Jumat. Ia sangat tahu seberapa besar perannya bagi para demonstran dan keluarga mereka.

Pada bulan Juli, Ghazi ditembak mati. Ia meninggal ketika Lamia sedang menyelamatkan nyawa demonstran lain, Nahid Qadeh. Lamia berduka namun tidak berputus asa. Kesulitan dan luka di kehidupan telah mengajarkannya untuk kuat dan bahagia. “Sebuah perahu yang didedikasikan untuk membantu orang lain tidak akan pernah tenggelam,” ucap Ghazi satu hari, ketika mereka bergabung di kerumunan besar para demonstran di perbatasan.

Ibu enam anak ini berniat melanjutkan pekerjaannya di perbatasan. “Tidak ada yang akan menggentarkan keyakinan saya akan hak untuk pulang,” ucapnya.

Meski masa depan Gaza masih buram, ketetapan hati Lamia untuk mendapatkan keadilan – bagi keluarga, masyarakat dan dirinya sendiri – tetap tidak dapat dihilangkan.

Baca juga: TOKOH TEATER DAN FILM INGGRIS KECAM PENGHANCURAN PUSAT KEBUDAYAAN GAZA

Reem Anbar

Reem (28) berasal dari Kota Gaza. Ia menemukan panggilannya selama perang Israel di Gaza pada musim panas tahun 2014. Reem akan membawa alat musik oud miliknya setiap hari, dari rumah ke Pusat Kebudayaan Sa’id Al-Mashal, di mana ia akan menghabiskan berjam-jam bermain musik untuk anak-anak yang ketakutan dan keluarga mereka, yang berlindung dari pemboman tiada henti Israel.

Bertahun-tahun Reem mencoba meninggalkan Gaza, agar bisa mewujudkan mimpinya bersekolah di institut seni. Akan tetapi, permintaanya meninggalkan Gaza berulang kali ditolak oleh Israel.

Reem sudah bermain oud sejak masih anak-anak. Oud adalah kawannya, khususnya selama malam panjang ketika Israel melakukan pemboman secara berturut-turut. Kapanpun bom mulai dijatuhkan, Reem akan mengambil alat musik kesayangannya dan masuk ke dunia magis di mana nada dan irama akan mengalahkan kekacauan besar di luar jendelanya.

Pada akhir 2017, Reem akhirnya dapat meninggalkan Gaza untuk mewujudkan mimpinya bersekolah di Eropa. Pada 9 Agustus 2018, ia mendengar kabar bahwa Pusat Kebudayaan Sa’id Al-Mashal telah dibom oleh Israel dan telah hancur total.

Reem berencana kembali ke Gaza setelah menyelesaikan pendidikannya. Ia bermaksud untuk melanjutkan pendidikan jenjang pascasarjana di jurusan terapi musik, sehingga Reem dapat berkontribusi dalam penyembuhan anak-anak yang terluka akibat perang dan pemblokadean.

“Mereka ingin kami berhenti bernyanyi,” ucapnya. “Tapi hal sebaliknya yang akan terjadi. Palestina akan selalu menjadi tempat bagi seni, sejarah, dan ‘sumud’ – ketabahan. Saya bersumpah, kami akan mengadakan pertunjukan sekalipun di jalanan, jika harus.”

Mereka berdua hanya sedikit dari sekian banyak wanita hebat di Palestina. Seperti Ahed Tamimi yang berjuang begitu keras melawan penjajahan, wanita-wanita Palestina lainnya juga berjuang dengan semangat yang sama meski dengan cara yang berbeda-beda. Semoga kisah mereka bermanfaat dan menginspirasi kita semua! (kimikim/kasihpalestina)

Rekening Donasi: BSM 1001 2016 2 6 (a.n Kasih Palestina)
Call Center (konfirmasi pengiriman & informasi lebih lanjut): 08123 2011 55