Perjuangan Wanita-wanita Gaza Bertahan Hidup di Wilayah PemblokadeanAl-Aqsha

Perjuangan Wanita-wanita Gaza Bertahan Hidup di Wilayah Pemblokadean

 

 Perjuangan Wanita-wanita Gaza Bertahan Hidup di Wilayah Pemblokadean

Keterangan foto: pasien-pasien wanita yang mengidap kanker di Jalur Gaza mengadakan aksi protes,  atas keputusan Israel yang tidak mengizinkan mereka berobat ke luar wilayah pemblokadean. (Sumber. Middle East Monitor)

Kasihpalestina.com – Kesulitan-kesulitan yang dihadapi para wanita Gaza masih sangat jarang diangkat, terutama di media-media barat. Seorang jurnalis di Middle East Monitor, Ramzy Baroud, mewawancarai beberapa wanita Gaza untuk membagi cerita mereka yang hidup di wilayah pemblokadean.

Hanan Al-Khoudari

Hanan terpaksa meminta tolong pada Facebook ketika Zionis Israel menolak permintaannya untuk menemani sang putra, Louay (3), ke tempat pengobatan kemoterapi di Yerusalem Timur.

Anaknya menderita ‘sarkoma (tumor ganas yang berkembang seperti jaringan ikat, terutama pada tulang dan otot (KBBI))’. Israel kemudian memberikan alasan keputusan mereka berdasarkan klaim yang tidak jelas, bahwa salah satu saudara Hanan merupakan mata-mata Hamas.

Organisasi kemanusiaan Gisha melaporkan bahwa Israel tetap enggan menegaskan, apa yang dimaksud dengan ‘mata-mata Hamas’. Sekalipun terdapat sebuah penjelasan, menghalangi orang yang harus mendapatkan pengobatan, tetaplah sebuah tindakan yang ilegal dan tidak bermoral.

Shaima Tayseer

Perempuan berusia 19 tahun asal Rafah, Gaza bagian selatan, Shaima Tayseer, hampir tidak mampu berbicara. Tumor otak yang dideritanya telah mempengaruhi pergerakan dan kemampuannya untuk mengekspresikan diri.

Ia begitu tekun dalam mengejar gelarnya di Pendidikan Dasar di Universitas Terbuka Al-Quds, Rafah, Jalur Gaza bagian selatan.

Penyakit yang dideritanya begitu luar biasa bahkan oleh standar Gaza yang melarat dan terisolasi. Shaima adalah putri tertua dari lima anak di sebuah keluarga, yang jatuh miskin akibat pemblokadean Israel. Ayahnya sudah pensiun dan keluarganya telah berjuang, namun Shaima telah bertekad untuk mendapatkan pendidikan.

Ia telah bertunangan dan akan menikah sesudah kelulusannya. Akan tetapi, tanggal 12 Maret merubah segalanya. Hari itu, Shaima divonis menderita kanker otak. Tepat sebelum operasi pertamanya di Rumah Sakit Al-Makassed di Yerusalem pada 4 April, tunangannya memutuskan pertunangan mereka.

Baca juga: DEMI SAMPAIKAN KONDISI TERKINI, KASIH PALESTINA ADAKAN ROADSHOW ULAMA PALESTINA

Operasi menyebabkan Shaima mengalami kelumpuhan parsial (sebagian). Dia kesulitan bergerak dan berbicara, tetapi ada berita yang lebih buruk; tes lanjutan di Rumah Sakit Gaza menunjukkan bahwa tumor tidak sepenuhnya hilang dan harus segera diangkat sebelum menyebar lebih luas.

Tidak hanya itu, Kementerian Kesehatan di Gaza mengumumkan bahwa mereka tidak mampu lagi menangani pasien-pasien kanker di wilayah pemblokadean pada 12 Agustus.

Saat ini, Shaima sedang memperjuangkan hidupnya dengan menunggu izin dari Israel untuk melewati pos pemeriksaan Beit Hanoun ke Tepi Barat, melalui Israel, untuk operasi darurat.

Itu hanya segelintir kisah yang mewakili bagaimana perihnya perjalanan hidup mereka di bawah pemblokadean dan penjajahan. Semoga kisah ini dapat menginspirasi dan membuka mata dunia akan kebenaran yang ada. (kimikim/kasihpalestina) 

Rekening Donasi: BSM 1001 2016 2 6 (a.n Kasih Palestina)
Call Center (konfirmasi pengiriman & informasi lebih lanjut): 08123 2011 55