Ketika Janda Penjual Lotek Itu Infak Rp 25 Juta untuk PalestinaArtikel

Ketika Janda Penjual Lotek Itu Infak Rp 25 Juta untuk Palestina

Kasihpalestina.com – Usai menyampaikan materi edukasi, seorang ibu di Bogor tetiba mendatangi ustadz Gaos Abdul Hamid. Kepada sang ustadz, ibu paruh baya itu berkata: “Ya ustadz saya seorang janda. Hari-hari saya hanya berjualan lotek untuk menghidupi anak-anak saya. Tapi izinkan saya untuk berinfak untuk rakyat Palestina. Insya Allah saya berkomitmen Rp 25 juta. Setiap bulannya saya akan mentransfer Rp 300.000. Saya hanya minta tolong diingatkan setiap bulannya saya sudah mentransfer berapa rupiah untuk Palestina agar saya bisa secepatnya melunasi hingga Rp 25 juta”.

Tetes air mata pun tak mampu terbendung di rona wajah ustadz Gaos. Selama bertahun-tahun dirinya berkecimpung menjardi seoang mutarzim (penerjemah) untuk misi kepalestinaan, baru kali ini Gaos merasa sangat tersentuh. Saat itu ustadz Gaos sedang ditugaskan menjadi mutarzim di sebuah pesantren tahfidz yatim-dhuafa di wilayah Bogor. Seperti biasa Gaos memberikan agitasi usai seremonial acara dalam rangka pembagian rapor para siswa. Banyak sekali kaum dhuafa di sana, namun hasrat untuk menolong sesama sangat besar.

“Selama saya mengisi materi hingga ke daerah-daerah pelosok di tanah air, baru kemarin yang paling berkesan pada saat saya didatangi seorang ibu dan janda yang akan berinfak Rp 25 juta untuk saudara-saudara Muslim kita di Palestina yang sedang terjajah,” ujar Gaos.

Menurut Gaos, tidak ada alasan baginya untuk tidak membela Palestina, kecuali lemahnya iman. Tidak ada yang membuatnya berhenti kecuali futur keimanan. Berjuang untuk Palestina dan Al-Aqsha adalah narasi inti dari perjuangan awal dan akhir bagi umat Muslim di dunia. Palestina adalah permasalahan kaum Muslimin yang utama hari ini, karena Aqsha saat ini sedang dalam keadaan gawat darurat. Sementara keutamaan Aqsha di antaranya adalah destinasi Islam pada akhir zaman, tempat manusia dikembalikan pada keberkahannya, tempat dimana Malaikat Isrofil meniup sangsakala, dan tempat dimana manusia dikumpulkan di padang masyar.

Karena itu, lanjut Gaos, untuk memperluas jaringan satu-satunya cara ampuh adalah melakukan edukasi sebanyak mungkin dan follow up edukasi sebaik mungkin hingga berbuah hasil dan semua akan menjadi pejuang-pejuang Aqsha. “Saya betul-betul mementinhkan edukasi ini. Seorang syeh pernah bilang kepada saya: Wahai ustadz Gaos jangan memperpanjang pembicaraan. Tapi saya katakan kepada beliau dalam melakukan edukasi dua hal yang saya lakukan, perta saya harus bisa lakukan bagaimana jamaah paham betul terhadap permasalahan Al-Aqsha bahwa perjuangan Al-Aqsha ini adalah sebuah keniscayaan yang harus saya lakukan. Dan kedua mereka konkret melakukan infak terbaik untuk Al-Aqsha,” tutur Gaos.

Meski begitu, ustadz Gaos mengaku pernah mendapat sambutan kurang baik ketika memberikan materi di kawasan perumahan agak elit di Palembang. Pada saat itu ketua RW setempatnya bahkan sempat mengacungkan tangan dan bertanya kenapa harus Palestina, karena masalah d Indonesia juga masih banyak. “Pertanyaan ini luar biasa cukup menyentak hati saya. Lalu saya jelaskan secara rinci dari awal tentang Masjidil Aqsha dan nilai-nilai perjuangan ini. Alhamdulillah beliau sendiri (ketua RW) berinfak Rp 5 juta .

Ustadz Gaos berharap ke depan ada mutarzim baru yang masuk dalam perjuangan kepalestinaan tanpa lelah dan keluh kesah semua lillah karena Allah SWT. “Pesan saya kepada mereka mutarzim kawan-kawan kita kuatkan dulu keimanan. Allah akan muliakan antum karena antum muliakan Aqsha,” kata Gaos. (slamet parsono/Kasihpalestina.com)