Duka dari Dua Saudara Jauh, Palestina dan IndonesiaBerita

Duka dari Dua Saudara Jauh, Palestina dan Indonesia

 

 

 

 

 Duka dari Dua Saudara Jauh, Palestina dan Indonesia

 Keterangan foto: gempa bumi di lombok (atas) dan serangan di Al-Aqsha (bawah). (Sumber. Google)

Kasihpalestina.com – Air mata kesedihan lagi-lagi harus tumpah. Bercampur dengan rasa takut yang begitu kuat menyeruak dari dalam diri. Mereka sedang berduka, meski dalam konteks yang berbeda. Tatkala Masjidil Aqsha dihantui serangan brutal penjajah, sementara tanah Lombok diguncang dengan begitu hebatnya.

Minggu pagi itu, tiba-tiba tanah berguncang begitu hebat. Membuat anak-anak ketakutan dan menangis. Berusaha mencari tempat yang tepat untuk berlindung. Panggilan untuk Illahi pun digaungkan dari ketinggian, di jalan menuju Gunung Rinjani. Lima ratus pendaki tertahan di posisi KM 10 Pelawangan Gunung Rinjani. Mereka tertahan akibat longsor, yang menutupi akses jalan untuk turun ke bawah. Hanya berdoa, berupaya dan berserah diri yang dapat mereka lakukan.

Total 15 nyawa tidak terselamatkan, setelah reruntuhan menimpa diri-diri itu. Perih dan sesak, itulah perasaan mereka yang kehilangan orang-orang tersayang. Meninggalkan bekas luka yang cukup dalam. Trauma pun menjadi sosok yang siap menghantui jiwa anak-anak. Tak ada yang lebih menyeramkan dibanding trauma masa kecil, begitu mengguncang kondisi psikologis mereka. Sebanyak 167 orang terluka dan 1.009 rumah juga alami kerusakan. Sejumlah fasilitas kesehatan bahkan tak dapat terhindar dari dampak gempa. Mereka memerlukan bantuan sesegera mungkin.

Baca juga: Journey of Empathy 4 Serahkan Untaian Kasih dari Indonesia untuk Palestina

Sementara itu, kehormatan masjid suci ketiga Islam kembali dicoreng oleh orang-orang Israel. Dentuman granat menjadi teror menyeramkan dan terdengar begitu menggelegar di kompleks Masjid Al-Aqsha. Jumat yang diharapkan syahdu itu begitu kontradiktif dengan kenyataan yang ada. Anak-anak yang hanya ingin beribadah di hari nan berkah pun, harus mendapatkan perlakuan tak manusiawi dari para polisi Zionis. Ibu-ibu berlarian tak tentu arah, berusaha terhindar dari serangan granat dan gas air mata.

Apa yang salah dengan beribadah? Kepergian mereka ke masjid hanyalah ingin mendekat pada Sang Pencipta dan khusyuk beribadah. Lantas mengapa mereka diperlakukan seperti teroris bahkan di tempat ibadah mereka sendiri? Ada apa dengan para penjajah itu?

Al-Aqsha dan Lombok kini diselimuti duka. Saling terikat meski berjauhan, karena ikatan saudara yang keduanya miliki. Lalu, bagaimana dengan kita? Mereka adalah saudara kita, bukankah berarti kita juga merasakan sakit dan duka yang sama? (kimikim/kasihpalestina)

Sumber. Diambil dari beberapa sumber

 

Rekening Donasi: BSM 1001 2016 2 6 (a.n Kasih Palestina)
Call Center (konfirmasi & informasi lanjutan): 08123 2011 55