Cari Tahu Hukum Berkurban di Dalam IslamArtikel

Cari Tahu Hukum Berkurban di Dalam Islam  

 

Kasihpalestina.com – Sebelumnya, kita sudah mengetahui sejarah Idul Adha dan kurban di dalam Islam. Selanjutnya, kita akan mencari tahu bagaimana hukum berkurban itu sendiri, agar kita bisa mempersiapkan yang terbaik untuk Idul Adha nanti.

Melansir dari Muslim.or.id, hukum berkurban dalam Islam terbagi ke dalam dua pendapat di kalangan ulama. Pendapat pertama mengatakan bahwa berkurban bersifat wajib bagi mereka yang lapang. Ulama yang berpendapat demikian yakni Rabi’ah (guru Imam Malik), Al-Auza’I, Abu Hanifah, Imam Ahmad dalam salah satu pendapatnya, Laits bin Sa’ad serta sebagian ulama pengikut Imam Malik, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, dan Syekh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah.

Syekh Ibnu ‘Utsaimin mengatakan, “Pendapat yang menyatakan wajib itu tampak lebih kuat daripada pendapat yang menyatakan tidak wajib. Akan tetapi, hal itu hanya diwajibkan bagi yang mampu…” (lihat Syarhul Mumti’, III/408)

Di antara dalilnya yaitu hadis Abu Hurairah yang menyatakan bahwa Rasulullah saw bersabda, “Barang siapa yang lapang (harta) namun tidak mau berkurban, maka jangan sekali-kali mendekati tempat salat kami.” (HR. Ibnu Majah 3123, Al-Hakim 7672 dan dihasankan oleh Syekh Al-Albani)

Sementara itu, pendapat kedua menyatakan bahwa berkurban itu bersifat Sunnah Mu’akkadah (ditekankan). Pendapat tersebut adalah pendapat mayoritas ulama, yakni Malik, Syafi’i, Ahmad, Ibnu Hazm, dan lain-lain. Ulama yang mengambil pendapat itu berdalil dengan riwayat dari Abu Mas’ud Al-Anshari ra.

Beliau mengatakan, “Sesungguhnya aku sedang tidak akan berkurban. Padahal aku adalah orang yang lapang. Itu kulakukan karena aku khawatir kalau-kalau tetanggaku mengira kurban itu adalah wajib bagiku.” (HR. Abdur Razzaq dan Baihaqi dengan sanad sahih).

Abu Sarihah juga mengatakan, “Aku melihat Abu Bakar dan Umar sementara mereka berdua tidak berkurban.” (HR. Abdur Razzaaq dan Baihaqi, sanadnya sahih). .

Selain itu, Ibnu Hazm berkata, “Tidak ada riwayat sahih dari seorang sahabat pun yang menyatakan bahwa kurban itu wajib.” (lihat Sahih Fiqih Sunnah, II/367-368, Taudhihul Ahkaam, IV/454)

Dalil-dalil tersebut merupakan dalil pokok yang digunakan masing-masing pendapat. Apabila dijabarkan seluruhnya, menunjukkan bahwa masing-masing pendapat sama kuat. Sebagian ulama memberi jalan keluar dari perselisihan dengan memberi nasihat: “…selayaknya bagi mereka yang mampu, tidak meninggalkan berkurban. Karena dengan berkurban akan lebih menenangkan hati dan melepaskan tanggungan, wallahu a’lam.” (Tafsir Adwa’ul Bayan, 1120)

Bagi mereka yang berkurban, Allah Swt akan segera menggantinya, karena setiap pagi Allah mengutus dua malaikat, yang satu berdoa; “Yaa Allah, berikanlah ganti bagi orang yang berinfak.” Dan yang kedua berdoa; “Yaa Allah, berikanlah kehancuran bagi orang yang menahan hartanya (pelit).” (HR. Al-Bukhari 1374 dan Muslim 1010)

Nah, sudah tahu kan, bagaimana hukum berkurban dalam Islam? Dapat disimpulkan, berkurban ditekankan kepada mereka yang mampu untuk melaksanakannya. Bagaimana dengan Anda sekalian, apakah sudah mampu untuk itu?

Selain itu, untuk menambah keberkahan dari berkurban itu sendiri, Anda bisa memberikan hewan kurban kepada saudara-saudara di tanah penuh keberkahan, Palestina. Kasih Palestina sendiri telah menyiapkan dua program untuk momen Idul Adha. Selengkapnya dapat dilihat di 2 Program Idul Adha Siap Bahagiakan Keluarga Syuhada Palestina.(kimikim/kasihpalestina)

 

Rekening Donasi: BSM 1001 2016 2 6 (a.n Kasih Palestina)
Call Center (konfirmasi & informasi lanjutan): 08123 2011 55

Ramadan Bersatu untuk Palestina - Kasih PalestinaBerita

Ramadan Menyatukan Kita