Bagaimana Sejarah Kurban dan Hari Raya Idul Adha?Artikel

Bagaimana Sejarah Kurban dan Hari Raya Idul Adha?

Kasihpalestina.com – Idul Adha dirayakan setiap tahunnya, namun sudah tahukah kita mengenai sejarah hari raya itu sendiri? Dilansir dari Amalqurban.com, nama lain dari Idul Adha adalah “Idul Nahr” atau hari raya penyembelihan. Hari untuk memperingati ujian paling berat yang dialami oleh Nabi Ibrahim.

Sejarah mencatat, ketika itu Allah Swt memberikan sebuah gelar kehormatan kepada Nabi Ibrahim atas kesabaran dan ketabahan beliau dalam menghadapi berbagai ujian serta cobaan. Gelar itu adalah “Khalilullah” (kekasih Allah).

Setelah pemberian gelar itu, malaikat bertanya kepada Allah: “Ya Tuhanku, mengapa Engkau jadikan Ibrahim sebagai kekasih-Mu, padahal ia disibukkan oleh urusan kekayaan dan keluarganya?” Allah berfirman: “Jangan menilai hambaku Ibrahim ini dengan ukuran lahiriah, tengoklah isi hati dan amal baktinya!”

Sebagai realisasi firman tersebut, Allah mengizinkan para malaikat untuk menguji keimanan dan ketakwaan Nabi Ibrahim. Hasilnya, kekayaan dan keluarga tak membuat Sang Nabi lalai dalam ketaatan pada Sang Pencipta.

Dalam sebuah kitab “Misykatul Anwar” disebutkan bahwa Nabi Ibrahim memiliki kekayaan dengan 1.000 ekor domba, 300 lembu, dan 100 ekor unta. Sementara itu, riwayat lain menyebutkan, kekayaan nabi yakni memiliki 12.000 ekor ternak.

Suatu hari, nabi ditanya oleh seseorang terkait kepemilikan ternak sebanyak itu. Sang Nabi kemudian menjawab: “Kepunyaan Allah, tapi kini masih milikku. Sewaktu-waktu bila Allah menghendaki, aku serahkan semuanya. Jangankan cuma ternak, bila Allah meminta anak kesayanganku Ismail, niscaya akan aku serahkan juga.”

Dalam tafsir Alquran, Ibnu Katsir mengemukakan bahwa pernyataan nabi yang akan mengorbankan Ismail jika dikehendaki Allah itulah yang kemudian dijadikan sebagai bahan ujian. Allah menguji iman dan takwa nabi melalui mimpinya yang haq, agar dirinya mengorbankan dan menyembelih sang putra yang ketika itu masih berusia 7 tahun dengan tangannya sendiri. Peristiwa tersebut diabadikan dalam Alquran, surat As-Saaffaat ayat 102.

Ketika ayah dan anak itu sudah siap, setan datang dan menggoda nabi. Ia berusaha menggagalkan rencana Sang Nabi. Tanggapan nabi ketika itu, beliau mengambil batu lalu mengucapkan, “Bismillahi Allahu akbar.” Batu itu pun dilempar.

Tatkala Nabi Ibrahim belum juga mengayunkan pisau di leher sang putra, Ismail mengira ayahnya ragu, ia sembari melepaskan tali pengikat di tangannya agar tidak muncul kesan bahwa sang anak menurut untuk dibaringkan secara paksa. Ismail juga meminta Nabi Ibrahim untuk mengayunkan pisau sambil berpaling, supaya tidak melihat wajahnya.

Nabi Ibrahim pun memantapkan niatnya. Akan tetapi, satu detik sebelum pisau digerakkan, Allah tiba-tiba berseru dengan firman-Nya, menyuruh nabi menghentikan perbuatannya. Allah telah meridai keduanya yang tawakal kepada Allah.

Sebagai imbalan keikhlasan Nabi Ibrahim dan putranya, Ismail, Allah mencukupkan dengan penyembelihan seekor kambing sebagai korban. Hal tersebut diterangkan dalam Alquran surat As-Saaffaat ayat 107-110.

Menyaksikan peristiwa besar tersebut, Malaikat Jibril terkagum-kagum seraya terlontar darinya ucapan “Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar”. Nabi Ibrahim pun menjawab “Laailaha illahu Allahu Akbar.” Kemudian, disambung oleh Nabi Ismail “Allahu Akbar Walillahil Hamdu.”

Pengorbanan itulah yang membuat Nabi Ibrahim menjadi seorang nabi dan rasul yang besar dan mempunyai arti yang besar. Semoga menjadi pengetahuan baru untuk para pembaca sekalian. Semangat menabung untuk berkurban di hari raya nanti! (kimikim/kasihpalestina)

 

Rekening Donasi: BSM 1001 2016 2 6 (a.n Kasih Palestina)
Call Center (konfirmasi & informasi lanjutan): 08123 2011 55