Mimpi Buruk Palestina dari Peluru Israel yang Disebut ‘Butterfly Bullets’Artikel

Mimpi Buruk Palestina dari Peluru Israel yang Disebut ‘Butterfly Bullets’

Kasihpalestina.com – Aksi Damai Kepulangan Akbar atau yang dikenal dengan ‘Great Return March’, telah menyebabkan ratusan warga sipil meninggal dunia dan belasan ribu lainnya terluka. Di antara mereka yang terluka, banyak yang harus kehilangan salah satu anggota badannya akibat peluru mematikan penjajah Israel.

Mungkin ada yang keheranan, mengapa peluru dapat menyebabkan kaki atau tangan seseorang diamputasi? Inilah perbedaan peluru yang dimiliki para penembak jitu Israel dengan peluru kebanyakan.

Zionis Israel menggunakan jenis peluru ‘kupu-kupu’ atau butterfly bullets. Peluru jenis ini meluncur lebih cepat dibandingkan suara dan menyebabkan kerusakan parah di dalam lapisan daging juga tulang ketika mengenai tubuh manusia. Peluru meledak ketika terjadi tabrakan, menghancurkan jaringan, arteri, dan tulang, sementara menyebabkan luka internal yang serius.

 

 

 

Mimpi Buruk Palestina dari Peluru Israel yang Disebut ‘Butterfly Bullets’
Keterangan Gambar : Peluru yang Digunakan Israel dalam Menembak Warga Palestina

 

Maka, untuk memperbaiki jaringan yang rusak jauh lebih sulit dibandingkan kasus umum. Seorang ahli bedah di Rumah Sakit Shifa yang bernama Tayser Al Tana mengatakan, jika dalam waktu enam jam pasien tidak segera ditangani dengan peralatan yang memadai, maka pilihan terakhir adalah mengamputasi anggota tubuh dan itu juga memiliki risiko yang besar.

Salah satu penyebab keterlambatan menyelamatkan tangan atau kaki pasien adalah larangan Israel bagi warga yang memerlukan perawatan di luar Gaza, misalnya Tepi Barat. Israel beralasan bahwa izin tidak diberikan kepada mereka yang mengikuti aksi protes di perbatasan Gaza.

Kisah dari Mereka yang Harus Diamputasi

 

Mimpi Buruk Palestina dari Peluru Israel yang Disebut ‘Butterfly Bullets’
Keterangan Gambar : Alaa Al-Daly yang Kehilangan Kaki Karena Tembakan Israel

Mohammed Al-Zaieem kehilangan banyak darah dan kaki kirinya terlihat begitu cacat, saat itu ia ketakutan tidak akan bisa bertahan. Mohammed adalah korban peluru Israel dalam aksi damai pada tanggal 6 April 2018.

Pembuluh arteri, vena, dan sepotong besar tulangnya hancur. Sementara itu, kaki kanannya juga tidak bisa dikatakan baik-baik saja.

Seiring berjalannya waktu, dirinya dipindahkan ke Rumah Sakit Arab Istishari di Ramallah, setelah ia menjalani tujuh kali operasi bedah di Gaza. Tak ada dokter yang dapat menyelamatkan kaki kirinya. Mau tidak mau, kaki kiri itu harus diamputasi.

Tak ada sanak keluarga yang berani membangunkan Al-Zaieem sesudah operasi. Ketika ia mencoba untuk bangun dari tempat tidur, tiba-tiba dirinya kehilangan keseimbangan di kaki kiri.

“Al-Zaieem begitu terkejut. Ia terlihat seperti mencari kaki kirinya. Itu adalah masa yang paling sulit bagi Al-Zaieem. Selama lima menit, ia hanya terdiam ketika aku mengajaknya berbicara,” ungkap sepupu dari Al-Zaieem.

Sementara itu, Alaa Al-Daly, pria berusia 21 tahun ini dulunya berprofesi sebagai atlet sepeda. Ia harus mendapat kaki kanannya diamputasi setelah menghadiri hari pertama aksi damai tersebut.

Daly mengatakan bahwa ia dan tiga temannya bersepeda menuju aksi di perbatasan pada 30 Maret, lalu berjalan menuju tempat yang mereka ekspektasikan sebagai aksi damai tanpa kekerasan.

“Aku hanya pergi karena ini disebut aksi damai, aku tidak mengharapkan kekerasan yang menimpa diriku,” ungkap Daly.

Daly juga menjelaskan, posisinya ketika itu 150-200 meter dari pagar perbatasan, dan tidak melakukan tindakan mencurigakan apapun ketika dirinya ditembak.

Setelah hari itu, dirinya kehilangan mimpi. Cita-citanya mengibarkan bendera Palestina di ajang Asian Games di Jakarta, harus pupus karena kaki kanannya sudah tidak ada. (kimikim/kasihpalestina)

Sumber. Diambil dari beberapa sumber

 

Rekening Donasi: BSM 1001 2016 2 6 (a.n Kasih Palestina)
Call Center (konfirmasi & informasi): 08123 2011 55

 

 

Ramadan Bersatu untuk Palestina - Kasih PalestinaBerita

Ramadan Menyatukan Kita