Ramadan Penuh Makna dari Tanah GazaArtikel

Ramadan Penuh Makna dari Tanah Gaza

Kasihpalestina.com – Ramadan menerangi tanah yang dikenal sebagai penjara terbesar di dunia. Cahayanya mengobati hati atas segala luka yang digoreskan kolonialis Israel. Sepenggal kisah di bulan yang penuh berkah dikisahkan oleh saudara kita di Jalur Gaza. Namanya Hatem Shurrab, ia bekerja sebagai pekerja bantuan di Islamic Relief di Gaza.

Tahun itu, Ramadan di Gaza terasa berbeda. Setiap tahun kemiskinan hanya semakin memburuk, namun Ramadan kali itu ratusan keluarga juga berusaha untuk mengatasi penderitaan mendalam akibat kehilangan orang-orang yang dicintai.

Selama duduk di depan meja makan untuk berbuka puasa, pikiran mereka bersama dengan orang-orang yang tak dapat bergabung di tahun itu. Para ibu kehilangan putri dan putra mereka, sedangkan anak-anak kehilangan ayah mereka.

Ramadan Penuh Makna dari Tanah Gaza
Keterangan Gambar : Seorang Ibu Kehilangan Anaknya Berumur 8 Bulan Karena Hirup Gas Beracun dari Israel (14/05/2018)

Setiap hari setelah bekerja, aku pulang ke rumah dan membantu keluargaku menyiapkan makanan berbuka. Bagiku, Ramadan adalah satu-satunya waktu untuk memiliki waktu makan bersama keluarga. Di malam hari, kami menghabiskan waktu dengan berkunjung dan menyapa sanak saudara juga rekan. Tetangga-tetanggaku adalah penganut Kristiani dan mereka sering sekali berkunjung dan berbuka puasa bersama. Ramadan menyatukan kami semua.

Sore hari, anak-anak berkumpul di jalan sembari memegang fawanees kecil – semacam lampu simbolis – dan beberapa menyalakan kembang api kecil. Mereka begitu bahagia dan asik memandangi toko-toko yang ada di pasar yang ramai, walaupun beberapa dari orang tua mereka mampu membelikan mereka apapun.

Akan tetapi luka, sama seperti kesenangan, meningkat selama bulan Ramadan. Asma adalah seorang remaja berusia 14 tahun yang aku temui beberapa bulan setelah perang. Ia kehilangan ayah tercinta dan perasaannya bercampur pada bulan Ramadan itu, antara kerinduan dan luka. Karena sang ayah sudah pergi selamanya dan tak dapat berbagi Ramadan dengannya.

Ketika aku berbicara padanya beberapa waktu lalu, dia memberitahuku bahwa dirinya masih sering kali menangis tatkala teringat pada sang ayah, dan ketika Asma ingat bagaimana mereka duduk bersama menjalani buka puasa di Ramadan tahun lalu.

Permulaan Ramadan juga bertepatan dengan permulaan tahun ajaran di sekolah, tetapi ribuan siswa di Gaza tidak mampu untuk merasakan kualitas pendidikan yang layak. Konflik telah merusak dan menghancurkan banyak sekolah, sehingga sejumlah siswa di setiap kelas bertambah lebih dari dua kali lipatnya, walaupun sudah begitu sesak.

Ramadan itu, aku membantu Islamic Relief [Palestine] untuk mendistribusikan paket makanan kepada sekitar 10 ribu keluarga miskin di Gaza. Setiap keluarga menerima makanan yang cukup untuk sebulan penuh termasuk bahan pokok seperti beras, gula, kacang-kacangan, pasta dan minyak. Aku berharap, paket-paket itu akan membuat sebuah perbedaan terhadap kesulitan yang dihadapi oleh banyak keluarga Palestina.

Di Gaza, permintaan dan kebutuhan begitu tinggi namun aku merasa bahagia, karena kami dapat melaju ke depan dan membantu menciptakan situasi yang lebih baik untuk warga di sini. Dukungan dari orang-orang berhati baik dari seluruh dunia, menandakan bahwa kami dapat membantu mengurangi derita warga Gaza di bulan Ramadan. (kimikim/kasihpalestina)

Sumber. Irusa.org

 

Rekening Donasi: BSM 1001 2016 2 6 (a.n Kasih Palestina)
Call Center (konfirmasi & informasi lanjutan): 08123 2011 55