Palestina: Semangat Menimba Ilmu di Tengah Hiruk Pikuk PenjajahanBerita

Palestina: Semangat Menimba Ilmu di Tengah Hiruk Pikuk Penjajahan

Kasihpalestina.com – Palestina, negeri yang subur dan dipenuhi keberkahan, seperti yang Allah SWT nyatakan dalam Alquran. Di antara kelebihan-kelebihannya, warga pribumi Palestina memiliki otak-otak cerdas dan semangat belajar yang begitu tinggi.

Memperingati Hari Pendidikan Nasional yang jatuh pada tanggal 2 Mei 2018, Kasih Palestina akan berbagi beberapa fakta mengenai pendidikan di Palestina. Di tengah situasi yang buruk itu, orang-orang di Palestina tetap bertahan dan terus memperjuangkan pendidikan.

Ilmu adalah kunci utama peradaban. Bediuzzaman Said Nursi mengatakan terkait ilmu, “Pikiran harus diterangi dengan ilmu pengetahuan, dan hati harus diterangi dengan agama. (Minds should be enlightened with science, and hearts need to be illumined with religion.).” Sepenting itulah ilmu.

Warga Palestina memang berada di bawah tekanan penjajah. Berpuluh tahun menderita akibat kekejaman Zionis Israel. Akan tetapi, warga Palestina bukanlah tipikal orang yang akan menyerah begitu saja terhadap keadaan. Mereka tidak takut akan nyawa yang menjadi taruhan. Meski kemiskinan menghantui, itu tidak masalah, selama pendidikan masih bisa diupayakan. Karena mereka tahu, salah satu kunci kemenangan Palestina adalah melalui ilmu.

Para orang tua di Palestina akan mendahulukan kebutuhan pendidikan anak-anaknya, dibandingkan kebutuhan pangan. Contoh lain adalah anak-anak di Tepi Barat yang beberapa waktu lalu kehilangan bangunan sekolahnya akibat dihancurkan Israel.

Lantas, apa yang mereka lakukan? Mereka tetap pergi ke tempat itu, bertemu para guru yang sudah menunggu dengan tenda-tenda yang gagah berdiri. Siap menyambut para siswa yang ingin menuntut ilmu.

Situasi Pendidikan di Palestina

Berdasarkan data UNICEF yang dikeluarkan tahun 2010, setidaknya terdapat 1.141.828 siswa di 2.611 sekolah dari kelas 1 hingga kelas 12; 1.955 sekolah pemerintah, 325 sekolah UNRWA dan 308 sekolah swasta. Dibandingkan dengan rincian yang ditampilkan sebelumnya, ada perubahan yang begitu jelas dalam jumlah siswa. Menurut MOEHE, pada sekolah-sekolah pemerintah terdapat 70% kehadiran, 22% di sekolah UNRWA, dan 8% di sekolah swasta.

Sejak pemilihan terakhir di tahun 2006, Gaza sudah berada di bawah blokade dan bahan-bahan bangunan yang diperlukan dilarang masuk ke Gaza. Ini yang kemudian menyebabkan masalah dalam peningkatan jumlah siswa, yang juga menyebabkan peningkatan pergeseran ganda di sekolah-sekolah.

Pergeseran ganda mencapai angka 82% di sekolah-sekolah pemerintah, 90% di sekolah-sekolah UNRWA yang menyebabkan sejumlah sekolah harus memotong jam belajar agar bisa menerima lebih banyak siswa.

Selain itu, kementerian mengatakan bahwa terdapat kebutuhan yang tinggi akan pembangunan sekolah baru dalam jangka lima tahun ke depan, untuk menampung pertambahan jumlah siswa. Jadi, rekomendasinya adalah untuk membangun setidaknya 100 sekolah UNRWA dan 105 sekolah pemerintah.

Meskipun begitu, rintangan yang menghalangi pergerakan siswa-siswa ke sekolah tidak menjadi lebih mudah. Mereka masih kesulitan karena jarak yang begitu jauh dan diharuskan berjalan kaki hingga 25 km untuk mencapai sekolah. Selain itu, mereka juga harus membayar biaya yang mahal untuk iuran bulanan.

Semangat dan situasi yang berbanding terbalik. Data yang membuktikan bahwa situasi sektor pendidikan di Palestina begitu krusial. Tapi semangatlah, yang kemudian mematahkan semua kemustahilan untuk menimba ilmu. Begitu luar biasa jiwa pejuang warga Palestina, yang bahkan sudah tertanam di dalam diri anak-anak sekalipun. (kimikim/kasihpalestina)

Sumber. Ukessays.com, Goodreads.com

 

Rekening Donasi: BSM 1001 2016 2 6 (a.n Kasih Palestina)
Call Center (konfirmasi & informasi lanjutan): 08123 2011 55