Kisah Nakba yang Menggema hingga Generasi Kelima PalestinaArtikel

Kisah Nakba yang Menggema hingga Generasi Kelima Palestina

Kasihpalestina.com – Peristiwa Nakba tidak akan pernah dilupakan oleh masyarakat Palestina, seperti yang benar-benar diinginkan oleh Zionis Israel. Hingga memasuki generasi kelima setelah peristiwa itu pun, generasi muda Palestina masih mengingat secara jelas bahwa Hari Nakba pernah ada.

Seorang jurnalis asal Gaza yang kini tinggal di Paris, Perancis, berbagi kisah mengenai Nakba dan keluarganya. Ia bernama Mousa Tawfiq. Dirinya dibesarkan dengan segala cerita kenangan dari tanah yang kini telah dicuri.

“Kami memiliki kebun daun ara paling besar di kampung,” atau “Kakekmu menyukai kuda dan dia dulu memelihara beberapa,” adalah hal-hal yang sering kali didengar oleh Mousa. Akan tetapi, yang paling sering ia dengar adalah: “Kami kehilangan segalanya setelah Nakba.”

Nakba mencuri segala kebahagiaan warga Palestina. Memaksa mereka pergi dari kampung halaman dengan segala ketidakjelasan yang ada, tempat tujuan dan status yang tak jelas.

Kisah yang paling banyak Mousa dengar datang dari nenek tercinta, Jamileh. Selain itu, kedua orang tuanya, Tawfiq dan Sawsan, yang kini tinggal di Jalur Gaza. Mousa ingat tatkala ia dan saudara-saudaranya mendengarkan cerita di antara temaram karena pemadaman listrik. Sang nenek selalu tersenyum ketika menceritakan bagaimana kehidupan mereka sebelum Nakba terjadi. Menceritakan tentang kampung mereka: al-Masmiya al-Kabira, menggali ingatan sang nenek mengenai musim panen, atau bagaimana neneknya jatuh cinta pada sang kakek.

Meski Mousa lahir 45 tahun setelah hari kelam itu, tak ada yang berubah bahkan hingga hari ini. Mereka masih berstatus sebagai pengungsi, terlantar, dan terpencar.

Suatu hari, sang nenek bercerita pada Mousa mengenai peristiwa tersebut tatkala neneknya berusia 16 tahun. “Nenek ingat ketika ayahnya berbicara pada ibunya mengenai rumor dan kabar pembantaian di Deir Yassin. Mereka mendengar kabar bahwa para wanita dipaksa untuk melepaskan pakaian mereka lalu dipaksa masuk ke bus dan dipindahkan ke kampung lain untuk ditakut-takuti juga diancam. Khawatir hal itu akan terjadi pada mereka, ditinggalkanlah kampung halaman mereka. Tak lama kemudian, mereka mendapat kabar bahwa kampung telah dihancurkan.”

Akibat peristiwa Nakba, anggota keluarga mereka terpencar. Mousa mengungkapkan, “Hari ini aku tinggal di Paris. Orang tua dan saudara-saudaraku tinggal di Gaza. Aku memiliki sanak keluarga di Timur Tengah, Eropa, dan Kanada. Akan tetapi, tak ada satupun tempat yang membuat kami merasa aman, mantap atau tetap. Tempat kami bersifat sementara dan kerinduan kami begitu mendalam pada rumah kami di tanah kami sendiri.” (kimikim/kasihpalestina)

Sumber. Electronicintifada.net

Rekening Donasi: BSM 1001 2016 2 6 (a.n Kasih Palestina)
Call Center (konfirmasi & informasi lanjutan): 08123 2011 55