Kasihpalestina.com – 1 Mei diperingati sebagai hari buruh. Mengingat buruh, teringat juga pada para buruh di Palestina dan nasib yang mereka tanggung hari ini. Dilansir dari Suara.com, para buruh yang bekerja di Israel diperlakukan seperti budak oleh penjajah Israel.

Saeb Erekat, Sekretaris Jenderal Organisasi Pembebasan Palestina (PLO), mengungkapkan bahwa Zionis menerapkan sistem perbudakan terhadap para pekerja Palestina, layaknya rezim rasis apartheid.

Dalam pertemuan dengan Direktur Regional Organisasi Buruh Internasional Frank Hageman, Saeb membicarakan permasalahan yang dihadapi oleh buruh-buruh Palestina, yang bekerja dalam kondisi sulit akibat kebijakan penjajah Israel.

Saeb mengatakan, akhir dari segala permasalahan ekonomi di Palestina ada di balik solusi politik yang adil dan komprehensif.

Saat ini terdapat 100 ribu buruh Palestina yang bekerja di Israel. Mereka harus melalui pos pemeriksaan agar dapat sampai ke tempat kerjanya. Israel melakukan pengawasan ketat terhadap warga Palestina, dengan membangun pos pemeriksaan di sejumlah titik di Tepi Barat yang diduduki.

Kisah dari Buruh Palestina

Pekerjaan menjadi buruh di wilayah Israel adalah sesuatu yang penuh risiko. Karena izin kerja hanya diberikan kepada mereka yang sudah menikah, maka bagi para pemuda yang belum menikah, mereka harus bekerja secara ilegal di sana. Demi menyambung kehidupan.

Akan tetapi, tertangkap oleh petugas-petugas Israel sering mereka alami. Dan tentu, mereka tidak dibiarkan begitu saja. Siksaan harus mereka terima, namun apa daya, mereka harus kembali lagi ke sana meski nyawa berada di ujung tanduk.

Melansir dari Arrahmah.com, seorang pemuda Palestina membagi kisahnya dalam mencari nafkah di tanah penjajah. Namanya Muhammad Ibrahim Hantash, berusia 23 tahun. Setiap minggu dirinya mempertaruhkan nyawa untuk menemukan pekerjaan sehari-hari. Ia tinggal di desa Khursa, Tepi Barat.

Hantash belum menikah, maka dirinya tidak memenuhi syarat untuk mendapat izin kerja dari Administrasi Sipil Israel, departemen yang bertanggung jawab atas perizinan masuk ke Israel. Mau tidak mau, ia tetap berangkat untuk menyeberangi perbatasan ke Israel.

Meski begitu, melakukannya sama saja dengan menantang bahaya. Ia bisa saja berakhir dengan cedera atau bahkan kematian.

“Kami adalah sepotong roti yang direndam dalam darah,” ungkap Hantash.

“Kami meninggalkan keluarga kami sebelum fajar, tapi kami tidak pernah tahu pasti apakah akan kembali ke rumah pada akhir hari. Tidak ada yang pasti dan kami hidup dalam keadaan kecemasan yang terus-menerus,” tambahnya.

Begitu sulit kondisi yang dialami oleh saudara-saudara kita di Palestina. Semestinya kita menjadi insan yang begitu pandai bersyukur atas nikmat Sang Pencipta hingga hari ini. Salah satu cara bersyukur adalah dengan berbagi, karena kita ingin membagi kebahagiaan yang telah dirasa pada mereka yang membutuhkan. Semoga, hari buruh ini menjadi satu media lain untuk merenungi kehidupan, terutama atas segala cinta dan berkah yang telah Allah berikan pada kita. (kimikim/kasihpalestina)

 

Rekening Donasi: BSM 10011 2016 2 6 (a.n Kasih Palestina)
Call Center (konfirmasi & informasi lanjutan): 08123 2011 55