Apa yang Akan Terjadi Jika Kedubes AS Dipindahkan ke Al-Quds?Artikel

Apa yang Akan Terjadi Jika Kedubes AS Dipindahkan ke Al-Quds?

Kasihpalestina.com – Mungkin akan muncul pertanyaan, apa yang salah dengan pemindahan gedung kedutaan besar dari satu tempat ke tempat lain? Mengapa hal tersebut dipermasalahkan? Ustaz Ahmad Musyafa’, Lc., Direktur International Aqsa Intitute (IAI) dan anggota Komite Pembentukan Ikatan Ulama Indonesia Pembela Al-Quds (IUIPA), akan menjelaskannya.

Merujuk dari khutbah Jumat yang diisi oleh Ustaz Ahmad, ia menjelaskan alasan mengapa isu pemindahan kedubes merupakan sesuatu yang penting untuk dibahas dan perlu diambil tindakan. Memindahkan kedutaan besar Amerika Serikat (AS) ke Yerusalem (Al-Quds) adalah salah satu langkah penting bagi Zionis Israel untuk merebut Masjidil Aqsha.

Israel tidaklah berarti tanpa Yerusalem, dan Yerusalem tidak ada artinya tanpa Sinagog Sulaiman. Itu adalah anggapan orang-orang Zionis. Mengapa bisa seperti itu? Sinagog Sulaiman atau Haikal/Kuil Sulaiaman adalah alasan yang digunakan Zionis untuk memobilisasi Yahudi dunia, agar mau datang  ke Palestina. Selain itu, sinagog juga digunakan untuk memprovokasi Yahudi dunia untuk menghancurkan Masjid Al-Aqsha, menggantinya dengan Sinagog Sulaiman.

Apabila Al-Quds benar-benar diberikan pada Zionis Israel untuk dijadikan sebagai ibu kota, Amerika Serikat (AS) sebenarnya telah melanggar undang-undang internasional, dan melanggar keputusan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang menyatakan Al-Quds sebagai Wilayah Hijau yang netral, di bawah pengawasan PBB.

Ketika Al-Quds benar-benar diserahkan, maka Israel memiliki hak mutlak terhadap semua yang berada di dalam kota tersebut. Israel memiliki wewenang penuh untuk mengatur tata letak kota, mengubah semua peninggalan Islam menjadi bernuansa Yahudi, menetapkan sistem pemerintahan hingga ke tingkat RT dan RW, dan yang paling berbahaya adalah penguasaan penuh atas kiblat pertama umat Islam sekaligus tempat Isra Mikraj Nabi Muhammad Saw, yakni Masjid Al-Aqsha Al-Mubaarak.

Jadi, adanya pernyataan sepihak Donald Trump pada Desember 2017 adalah pernyataan perang secara tidak langsung. Kita tidak boleh berdiam saja, mendiamkan nasib Masjid Al-Aqsha yang berada di ujung tanduk, membiarkan masjid suci itu dinodai—masjid yang nilainya sama seperti Masjidil Haram dan Masjid Nabawi. Sanggupkah kita mengabaikan hal itu? Jika hati itu masih hidup, tentu kita tidak akan tenang dan berdiam diri. Ayo, sebelum terlambat, kita satukan suara dan berupaya untuk melawan kezaliman! Jika mampu hadir, mari berkumpul di lapangan Monas Jumat ini (11/5). (kimikim/kasihpalestina)

 

Rekening Donasi: BSM 1001 2016 2 6 (a.n Kasih Palestina)
Call Center (konfirmasi & informasi lanjutan): 08123 2011 55