Aksi Kepulangan Akbar: Peluru-peluru Israel Berbeda dan Begitu BerbahayaBerita

Aksi Kepulangan Akbar: Peluru-peluru Israel Berbeda dan Begitu Berbahaya

Kasihpalestina.com – Tentara pendudukan Israel terus melepaskan tembakan dan gas air mata kepada warga Palestina, yang melakukan aksi damai di perbatasan Jalur Gaza. Akibatnya, banyak warga yang harus terluka, meninggal dunia, dan kehilangan kaki atau tangannya.

Pertanyaannya sekarang, jenis peluru macam apa yang membuat kaki dan tangan yang terkena harus diamputasi? Dilansir dari Aljazeera.com, paramedis di lapangan mengatakan bahwa tentara Israel menembak warga dengan peluru tipe baru yang belum pernah dilihat sebelumnya.

Peluru tersebut dikenal dengan “peluru kupu-kupu” (butterfly bullet), yang meledak saat terjadi tubrukan, menghancur-leburkan jaringan, arteri dan tulang, sementara menyebabkan luka internal yang serius.

24 orang yang harus diamputasi ditembak dengan sebuah peluru eksplosif, termasuk apa yang menimpa Yaser Murtaja dan Ahmad Abu Hussein yang meninggal akibat luka mereka, setelah ditembak di bagian perut.

“Semua organ internal mereka rusak total, hancur lebur,” ucap Ashraf al-Qedra, juru bicara kementerian kesehatan Gaza.

Peluru-peluru tersebut merupakan peluru yang paling mematikan dari yang pernah tentara Israel gunakan, menurut Ashraf.

“Biasanya, sebuah peluru biasa merusak kaki (ketika terjadi tubrukan). Tapi peluru-peluru menciptakan luka masif (besar-besaran), menunjukkan bahwa sebuah ledakan di dalam tubuh. Ini adalah peluru yang ‘meluas’. Ini menghacur-leburkan kaki, dan dampaknya kaki harus diamputasi,” jelas Ashraf.

Bagaimanapun, peluru kupu-kupu bukanlah satu-satunya senjata baru yang secara mencolok digunakan dalam aksi di Gaza. Warga Palestina juga telah memperhatikan gas beracun yang tidak diketahui disemprotkan pada para demonstran, yang menyebabkan kejang hebat.

Gas kuning-hijau telah menyebabkan banyak warga yang kejang, kaki dan tubuh mereka dipukuli secara kasar ketika mereka tumbang ke tanah. Sementara itu, warga lainnya menderita sesak dada (asphyxia) atau sakit kepala hebat dan denyut jantung yang cepat.

“Ini lebih berbahaya dibandingkan gas air mata, dan gejalanya lebih parah,” jelas Dr Ashraf Joma’a, seorang ahli kimia dari Gaza, menandai bahwa akan sulit untuk menemukan perawatan yang tepat.

“Kami memiliki bom gas yang belum meledak sebagai sampel di sini, tapi para ilmuwan potensial di Gaza terlalu lemah untuk mendeteksi secara tepat berbagai gas yang digunakan Israel. Ini adalah senjata-senjata yang dilarang secara internasional, dan kami menyeru Organisasi Larangan Senjata Kimia dan komunitas internasional untuk mengirimkan sebuah komite investigasi,” ungkap Joma’a. (kimikim/kasihpalestina)

Rekening Donasi: BSM 1001 2016 2 6 (a.n Kasih Palestina)
Call Center (konfirmasi & informasi lanjutan): 08123 2011 55