Kasihpalestina.com – UNRWA masih alami krisis, sementara kondisi di Tepi Barat dan Jalur Gaza terus memburuk. Lembaga PBB ini akan benar-benar kehabisan dana bulan Juni mendatang, apabila tidak ada bantuan baru yang masuk. Melansir dari Middleeasteye.net, UNRWA memerlukan dana setidaknya USD 200 juta, yang diumumkan pada Selasa (24/4).

Pierre Kraehenbuehl, yang mengepalai Lembaga PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA) yang menyediakan bantuan di sekitar Timur Tengah, mengatakan bahwa krisis panjang yang dialami UNRWA diakibatkan oleh pengurangan dana bantuan dari Amerika Serikat. Dana sebesar USD 305 juta telah ditahan oleh pemerintah AS.

“Kamu sudah memiliki masyarakat yang sangat, sangat rapuh (di Gaza). Jadi, apabila kamu tiba-tiba tidak memiliki kepastian mengenai jumlah bantuan makan dari PBB untuk jutaan orang… Kamu dapat membayangkan dampak macam apa yang akan terjadi,” ucap Pierre, meski begitu ia tidak membenarkan hubungan apapun dengan potensi kerusuhan.

Negara-negara Teluk, Norwegia dan Kanada, telah turun tangan dengan bantuan senilai USD 200 juta, untuk membantu pemenuhan target anggaran di tahun 2018 sebesar USD 465 juta. Sementara itu, Amerika Serikat hanya memberikan USD 60 juta dari USD 365 juta yang dijanjikan. Masih menyisakan kekurangan sebesar USD 200 juta untuk bantuan beras, tepung, gula dan dana bantuan sekolah di Jalur Gaza dan Tepi Barat.

Permintaan bantuan oleh UNRWA pun tak mudah, karena krisis yang terjadi di sejumlah negara lain. Pierre mengingatkan akan ketidakstabilan yang lebih parah di Gaza. Ini diakibatkan kondisi perekonomian di sana memang sudah buruk, jatuh hingga titik terbawah setelah belasan tahun diblokade oleh Israel dan perpecahan internal di Palestina.

Pierre menjelaskan bahwa kekurangan dana yang dialami UNRWA sama artinya dengan kemungkinan lembaga yang tak mampu kembali membuka sekolah-sekolah di bulan Agustus dan September, untuk tahun akademik baru.

“Ini adalah krisis dana terbesar yang pernah kami alami,” ungkapnya.

Lebih dari dua juta warga Palestina tertahan di dalam Gaza, sementara Penjajah Israel menarik pasukan dan pemukimnya di tahun 2005. Akan tetapi, mereka tetap memegang kontrol atas tanah Gaza dan perbatasan laut. Mesir juga membatasai pergerakan keluar-masuk Gaza di perbatasannya.

Rencana Selanjutnya dari UNRWA

Pierre mengatakan telah melakukan pemotongan belanja di dalam lembaga dan sedang mencoba menemukan donatur baru di sektor swasta. Kemungkinan adalah negara-negara Teluk, atau donasi yang dibuat oleh solidaritas Palestina selama bulan suci umat Islam, Ramadan.

Setelah bantuan dari Qatar, Turki, dan Uni Emirat Arab, selanjutnya UNRWA akan meminta bantuan dari Jerman, Perancis, Swedia, dan Britania Raya. Akhir pekan ini, ia akan pergi ke Berlin. Sementara itu, Israel bukanlah kontributor UNRWA.

“Ini adalah investasi sederhana untuk menjaga wilayah dari ketidakstabilan dan ketidakpastian masa depan,” jelasnya. (kimikim/kasihpalestina)

Rekening Donasi: BSM 1001 2016 2 6 (a.n Kasih Palestina)
Call Center (konfirmasi & informasi lanjutan): 08123 2011 55