Ketika Cinta untuk Palestina Melahirkan sebuah PuisiArtikel

Ketika Cinta untuk Palestina Melahirkan sebuah Puisi

Kasihpalestina.com – 28 April 2018 diperingati sebagai Hari Puisi Nasional, di mana peringatan ini muncul dalam rangka mengenang salah satu sastrawan besar di tanah air, Chairil Anwar.

Puisi, dapat dijadikan sebagai salah satu media dalam mengekspresikan perasaan, keresahan, pemikiran, dan lainnya. Belum lama ini, seorang penulis terkenal Indonesia Helvy Tiana Rosa, mengungkapkan perasaannya mengenai Palestina lewat sebuah puisi.

Di dalam akun Instagram miliknya, Helvy bercerita bagaimana cinta pun tumbuh di tanah Palestina, di tengah desing peluru dan bom yang berjatuhan dari langit. Cinta, yang dibersamai oleh perjuangan dan pengorbanan. Cinta, yang semoga menghadirkan ridha Illahi Rabbi. Berikut puisi yang dipublikasikannya dua hari lalu.

 

Semoga Bersanding di Surga

 

Aku melamarmu, Amira

Di antara desing peluru, mortir,

Dan roket malam itu

Biar kubersihkan serpihan beliung

Yang menikam jiwamu

Saat mereka lukai Palestina kita

 

Aku melamarmu, Amira.

Cinta akan tumbuh,

Menjelma kebun mawar

Dan kupukupu di matamu

Getar dan denyutnya adalah

Kesetiaan menjaga masjidil Aqsha

 

Namun dalam perjalanan

Menuju akad

Sepuluh peluru tentara Israel

Menembus tubuhku

Aku melayang nanar,

Mendekap eraterat rinduku padamu

Yang lebam terbentur waktu

 

Mereka bilang aku telah tiada, Amira,

Tapi aku tak kemana mana.

Jangan menangis, atau patah

Selama kau memiliki Allah,

Kau punya segalanya

Ketegaran ketulusan adalah senjata

Berjuanglah, Cinta;

Langitkan doadoa,

Jaga Al Aqsha

 

Aku melamarmu, Amira,

Meski tak bersatu di dunia

Semoga kelak kita

Bersanding di surga

 

Sang penulis mengatakan bahwa puisi ini lahir setelah melihat foto seorang gadis Palestina, yang bahkan ia dapatkan di sebuah peramban yang bernama Google. Kita tidak tahu, benarkah ada kisah seperti itu di tanah Palestina. Tapi, tidak ada yang mustahil, bukan? Cinta menyebar luas di bumi Allah, dan apabila benar-benar ada kisah mengharukan seperti itu, permasalahan cinta yang kita alami mungkin tak seberapa dibandingkan mereka.

Kedua insan yang bahkan berpisah karena Allah. Menguatkan dengan menggaungkan nama Sang Pencipta. Maka mungkin, tak perlu kita bersedih akan sesuatu yang mungkin belum Allah takdirkan, atau mengenai jodoh yang tak kunjung datang.

Puisi itu juga mengajarkan pada kita bahwa hakikat kehidupan adalah mencintai Sang Pencipta cinta. Ketika Allah restui kita untuk mencintai makhluk-Nya pun, kembali lagi, atas dasar cinta kita pada Sang Illahi. Wallahualam. Semoga tulisan pendek di akhir pekan ini dapat menambah hikmah di kehidupan kita. (kimikim/kasihpalestina)

 

Rekening Donasi: BSM 1001 2016 2 6 (a.n Kasih Palestina)
Call Center (konfirmasi & informasi lanjutan): 08123 2011 55