Aksi Kepulangan Akbar: Seorang Paramedis juga Terkena Serangan Peluru ZionisBerita

Aksi Kepulangan Akbar: Seorang Paramedis juga Terkena Serangan Peluru Zionis

Kasihpalestina.com – Zionis Israel jelas tak salah sasaran. Mereka bahkan mengakui hal itu. Lantas, mengapa petugas medis juga terkena peluru berbahaya mereka? Dilansir dari Middleeastmonitor.com, seorang petugas medis ditembak oleh penembak jitu Israel di bagian kaki.

Jika Israel dapat berdalih dengan mengatakan bahwa warga Palestina yang mengikuti aksi berbahaya, kali ini elakan macam apa atas tindakan serupa mereka kepada paramedis?

Kesaksian yang dikeluarkan oleh Lembaga Kesehatan Dunia (WHO), memberikan wawasan bagaimana tentara Israel menindas para demonstran Palestina, termasuk penggunaan secara meluas dari tembakan langsung terhadap para demonstran, wartawan, dan paramedis.

Pada 9 April, Imad (34) menjadi sukarelawan sebagai responden pertama dengan Palestinian Red Crescent Society (PRCS) sejak 2006. Ia ditempatkan di dekat barak pengungsi al-Bureij di pusat Jalur Gaza.

Menurut WHO, Imad sedang menunggu sebagai bagian dari tim PRCS, duduk di depan kursi penumpang di dalam sebuah ambulans, lokasi lebih dari 300 meter dari pagar perbatasan Gaza.

“Tepat setelah pukul 5, tiba-tiba ada tembakan dari arah pagar pembatas dan kaki kanan saya tertembak. Kami langsung keluar dari ambulans dan bersembunyi di belakangnya. Paramedis yang sedang bersama saya kemudian memakaikan perban di kaki untuk menghentikan pendarahan.” jelas Imad.

Imad kemudian menjelaskan bagaimana ia sampai dibawa ke dua rumah sakit berbeda, sebelum akhirnya dibawa ke Rumah Sakit Shifa, setelah dirinya didiagnosa dengan sindrom kompartemen (pendarahan hingga ke betis yang kemudian memotong suplai darah ke kaki).

Ketika Imad melakukan operasi di Rumah Sakit Shifa, dokter memberitahu apabila dirinya tidak mampu menjalani operasi tersebut, Imad akan kehilangan kakinya. Terlepas dari risiko tersebut, Imad tetap berkomitmen untuk menjadi sukarelawan.

“Kita membutuhkan para pekerja kemanusiaan dalam situasi sulit ini. Gaza sudah merasakan tiga perang dalam enam tahun. Kehidupan di sini adalah sebuah keadaan darurat yang konstan. Jika bekerja dengan PRCS untuk membantu orang sakit dan terluka, kamu akan merasa setidaknya dirimu mampu untuk memperbaiki hal-hal dengan cara kecil.”

Menurut WHO, Imad masih membutuhkan operasi kedua untuk pengangkatan peluru yang bersarang di otot betisnya dan untuk memperbaiki keretakan.

“Setelah saya menyelasaikan perawatan dan jauh lebih baik, saya berniat kembali bekerja di ambulans. Bagi saya, ini adalah sebuah kewajiban yang saya rasakan terhadap pasien-pasien saya dan Gaza,” ungkapnya. (kimikim/kasihpalestina)

Rekening Donasi: BSM 1001 2016 2 6 (a.n Kasih Palestina)
Call Center (konfirmasi & informasi lanjutan): 08123 2011 55