keluarga Syekh NehadArtikel

Syekh Nehad dan Keluarga, Salah Satu Potret Keluarga Gaza

Kasihpalestina.com – Pendidikan membawanya jauh hingga akhirnya berada di sini, Indonesia. Pengalaman hidup yang dialami memintanya untuk dibagi pada dunia, apa yang dirasakan oleh orang-orang di Jalur Gaza. Mewakili suara Palestina, Syekh Nehad dan keluarga menunjukkan salah satu potret keluarga Gaza.

Syekh Nehad Ramaha, ulama asal Gaza ini sedang berada di Indonesia bersama keluarganya. Setelah menyelesaikan studi jenjang doktor di Malaysia, ia dan keluarga berencana kembali ke Gaza dalam waktu dekat. Kasih Palestina mengunjungi kediaman sementaranya di Indonesia untuk lebih mengenal potret dari salah satu keluarga Gaza tersebut.

Syekh Nehad memiliki istri yang bernama Hiba (dalam bahasa Indonesia artinya hadiah/pemberian). Anak pertamanya bernama Muhammad yang masih berusia 11 tahun. Anak keduanya bernama Mu’min dan berusia 9 tahun, sedangkan anak terakhirnya bernama Lana yang baru berusia 4 tahun. Mereka berasal dari  Zaitun, Kota Gaza.

Lana lahir di Malaysia, ketika Syekh Nehad sedang melanjutkan studi di sana. Namun sayang, karena seluruh anggota keluarga didaftarhitamkan, Lana tidak mendapatkan status kewarganegaraan di Malaysia. Selain itu, istri dari Syekh Nehad merupakan seorang hafidzah dan lulusan departemen bahasa Inggris untuk pendidikan jenjang sarjana.

Hiba senang dapat berkunjung ke Indonesia. Ia berkata bahwa orang-orang Indonesia begitu ramah. Akan tetapi, di waktu yang sama dirinya merasa sedih karena jauh dari keluarga di Gaza. Istri syekh ini telah mencicipi masakan khas Indonesia, seperti sate, bala-bala, dan nasi bakar. Meski dari segi rasa begitu berbeda dengan masakan Palestina.

Ia mengungkapkan, perbedaan Indonesia dan Palestina adalah kondisi di Indonesia yang jauh lebih aman dibandingkan dengan Palestina. Setiap saat bisa saja terdengar suara ledakan bom. Jika Allah berikan kesempatan lagi untuk kembali ke Indonsia, Hiba berharap dapat melanjutkan studinya di negeri Ibu Pertiwi tersebut.

Selama tinggal di Indonesia, keluarga harmonis ini belum melakukan perjalanan wisata sama sekali. Hanya sesekali berbelanja di lingkungan sekitar tempat tinggal. Syekh cukup sibuk mengisi kegiatan di acara-acara Jaulah Syekh, juga menjadi konsultan IT di salah satu lembaga kemanusiaan, untuk mengembangkan program di laman khusus donasi. Dalam waktu dekat, syekh akan pergi ke Riau selama 4 hari untuk mengikuti acara Jaulah Syekh.

Keluarga Syekh Nehad tinggal di Jalur Gaza pada tahun 2005-2011. Sebelumnya, syekh pergi ke Yordania pada tahun 2003 untuk melanjutkan studi master. Ketika berencana bersekolah di Yordania, blokade belum diberlakukan oleh penjajah. Akan tetapi, kondisi hari itu pun tidak jauh berbeda. Krisis sudah banyak terjadi, namun pemblokadean telah memperparah kondisi yanga ada.

Syekh Nehad bahkan harus menunggu di perbatasan selama kurang lebih enam hari, agar bisa melewati perbatasan dan pergi ke Yordania. Menunggu sejak pukul enam pagi hingga enam petang dengan kondisi yang sangat tidak nyaman, tanpa kursi dan di bawah terik matahari secara langsung.

Saat ini, keluarga itu masih belum tahu kapan dapat kembali ke Jalur Gaza. Tidak seperti orang-orang kebanyakan yang dapat merencanakan tanggal berpergian, bagi warga Gaza sulit sekali merencanakan waktu untuk sebuah perjalanan. Waktu pembukaan perbatasan tidaklah menentu, terlebih waktu pembukaan pun biasanya hanya 2 hari.

Sedangkan, untuk kembali ke Gaza syekh perlu membeli tiket terlebih dahulu. Baru keeseokan harinya dapat berangkat. Akan tetapi, waktu yang tersisa hanya 1 hari dan itu tak memungkinkan mereka untuk kembali.

Ketika ditanya mengenai alasan di balik kekuatan warga Gaza yang berhasil bertahan hingga hari ini, syekh menjawab, “Kami tidak memiliki pilihan lain, tetapi kami yakin pada Allah SWT bahwa Dia akan menolong kami.”

 

Cinta Mereka pada Al-Quran

Dahulu sebelum pemerintahan Fatah, terdapat program tahunan khusus untuk menghapalkan Al-Quran secara sistematis, program tahfidz tiga bulan. Di setiap masjid di Gaza juga terdapat Daurah Quran agar warga tidak terkecuali anak-anak, dapat bertilawah dan murajaah.

Akan tetapi, sejak pemerintahan Fatah naik, tidak ada lagi program-program seperti itu. Mereka yang ketahuan mengadakan program akan dimasukkan ke dalam penjara. Maka hari ini, warga Gaza hanya bisa menghapalkan Al-Quran secara pribadi.

Semoga segelintir kisah yang dibagikan ke khalayak ini dapat menjadi inspirasi bagi kita semua. Bagaimana diri ini menjadi sosok yang pandai bersyukur dan semakin cinta pada Al-Aqsha juga Al-Quran. Masyarakat Gaza khususnya memang dijajah secara besar-besaran, tetapi cinta mereka pada Al-Quran tak pernah surut.

Terima kasih juga kepada keluarga Syekh Nehad dan seluruh keluarga di Gaza serta Palestina secara umum, karena telah menjaga Al-Aqsha untuk kami semua. Semoga suatu hari nanti, kami dapat bergabung dengan kalian dan melindungi Al-Aqsha bersama-sama. (kimikim/kasihpalestina)

Rekening Donasi: BSM 1001 2016 2 6 (a.n Kasih Palestina)
Call Center (konfimasi & informasi lanjutan): 08123 2011 55