Sepenggal Kisah di Gaza - Kasih PalestinaArtikel

Sepenggal Kisah dari Tanah yang Diblokade, Gaza

Kasihpalestina.com – Gaza, sebuah wilayah yang menampung hampir dua juta nyawa. Jika
berbicara mengenai Jalur Gaza, sinonimnya adalah “penjara”. Dari sanalah beragam kisah
bermakna berasal. Mereka yang berada di sana, berbagi cerita kehidupan.

Gaza adalah tanah yang memiliki panjang 42 kilometer dan lebar 12,5 kilometer. Perlu satu
jam tiga puluh menit untuk berkendara dari bagian utara ke selatan. Wilayah blokade ini
dikelilingi oleh lautan hingga ke bagian barat. Sebuah “pembatas keamanan” atau yang
dimaksud pagar rantai dan kawat berduri, terpasang hingga ke timur. Sementara itu, di bagian
utara berdiri sebuah tembok tinggi, yang dibangun untuk menghalangi orang-orang Gaza dari
dunia luar. Belum lagi tembok lain yang berada di bawah tanah, yang masih dalam
pembangunan. Dilansir dari Daysofpalestine.com, inilah cerita dari Jalur Gaza.

Apa yang Harus Diprioritaskan untuk Dua Jamku yang Berharga?

Akibat konflik politik, penggunaan listrik di Gaza mengalami pembatasan maksimal. Selama
berbulan-bulan masyarakat harus hidup dengan listrik 2-3 jam per hari. Abu Abed, bercerita
mengenai anak-anaknya dalam menjalani hari. Ia berkata bahwa anak-anaknya harus
membuat keputusan yang semestinya tidak dilakukan anak-anak.

“Apakah mereka harus menggunakan dua jam listrik ini untuk mengisi daya baterai ponsel?
Menonton kartun? Atau menyimpan jus di dalam kulkas? Karena, membiarkan makanan
tetap dingin menjadi mustahil di musim panas, ketika suhu di Gaza melampaui 30
derajat,”ungkap Abu.

Situasi di sana sudah membaik, tapi masyarakat harus tetap menjalani hidup dengan listrik
yang hanya beroperasi empat hingga enam jam saja setiap hari.

Seorang nenek bersama bayi berusia 14 bulan yang bernama Ussaid membagi pengalamannya,
Ussaid sendiri adalah bayi malang yang terkena luka bakar di tangan, “Selama listrik
menyala, kami berusaha melakukan segala sesuatunya dalam sekali waktu. Maka dari itu,
kami bergegas dan akibatnya risiko bertambah terhadap anak-anak kami.”

Kehidupan Memburuk, Meski Prasarana Membaik

Berkat bantuan internasional, hampir seluruh bangunan di Gaza sudah berhasil dibangun
kembali. Bangunan yang hancur akibat serangan tahun 2014. Akan tetapi, hampir setengah
dari populasi yang ada mengalami kesulitan pangan.

Orang-orang di sana harus berusaha sebaik mungkin, dan kekompakan keluarga sangat
diperlukan untuk beradapatsi juga bertahan.

“Ketika aku tidak memiliki cukup uang untuk membali makanan, aku meminta bantuan pada
sekitar,” ungkap Abdel Raheem (30). Ia melanjutkan, “Kadang-kadang ibu tiriku meminjami
aku 15 shekel. Aku merasa sangat malu. Akan tetapi, dia bilang bahwa kami adalah keluarga,
bahwa aku sudah seperti anaknya dan kami harus mendukung satu sama lain.”

Sementara itu, terkait air yang tersedia di Gaza, air bersih menjadi masalah utama bagi
penduduk Gaza. Lebih dari 95% air bawah tanah sudah tidak layak konsumsi dan air ledeng
terlalu asin. Perusahaan air swasta memang dapat mengantarkan air bersih, namun itu hanya
salah satu solusi kecil.

Berkaitan dengan perlakuan dan pembuangan air limbah juga jauh dari efektif. Air limbah
dibuang ke laut, sehingga orang-orang tidak dapat lagi mandi di sana. Laut yang seharusnya
dapat dijadikan sumber penghasilan warga, memiliki batasan yang dipaksakan sendiri:
pembatasan polusi dan penangkapan ikan yang dilakukan oleh Israel.

Tingkat Pengangguran Mencapai 64,9 Persen

Blokade yang telah membatasi mobilisasi barang-barang dan warga, secara langsung juga
berdampak pada sektor ekonomi. Sebagai contoh, bahan-bahan konstruksi ditahan di
perbatasan, begitu pula dengan peralatan medis, dengan dalih berpotensi disalahgunakan.

Menurut lembaga United Nations Office for the Coordination of Humanitarian Affairs
(OCHA), di kuartal ketiga tahun 2017 tingkat pengangguran mencapai 46,6 persen dan
tingkat pengangguaran bagi pemuda sebesar 64,9 persen.

Seorang mahasiswa tahun keempat jurusan akuntansi berusia 22 tahun, Hassan,
mengungkapkan perasaanya, “Kami berpendidikan, kami tidak bodoh. Kami memperoleh
gelar diploma tapi berakhir menjadi pengangguran. Kami tidak dapat memiliki kehidupan
yang layak jika kami tidak bekerja.”

Sementara itu, Abdel Raheem (30) harus kehilangan pekerjaan setelah kaki dan tangannya
ditembak, ketika melakukan demonstrasi di perbatasan untuk memprotes pernyataan sepihak
Donald Trump, Presiden Amerika Serikat (AS).

“Satu bulan kamu bekerja, lalu tiga bulan selanjutnya tidak,” ungkap Abdel.
Kisah tak jauh berbeda datang dari Mohamed M (22), yang ditembak pada bulan Juni 2017,
“Aku sudah tidak bekerja semenjak terluka. Aku melakukan tujuh usaha (perdagangan) tetapi
tidak mendapatkan keberuntungan.”

Rasa syukur terucap dan terungkap dari lubuk hati. Nikmat Tuhan-Mu yang mana lagi, yang
kamu dustakan? Kisah-kisah inspiratif tak hanya menghadirkan air mata, tapi memberikan
semangat luar biasa agar kita bisa setegar saudara-saudara yang berada di Jalur Gaza.
(kimikim/kasihpalestina)

Nomor rekening lembaga Kasih Palestina: BSM 1001 2016 2 6 (a.n Kasih Palestina)
Informasi dan konfirmasi, hubungi Call Center 08123 2011 55.