palestina merdeka - Kasih PalestinaArtikel

Inilah Yang Terjadi Apabila Al-Quds Menjadi Ibu Kota Israel

Kasihpalestina.com – Apa yang terjadi apabila Al-Quds menjadi Ibu Kota Israel seperti yang Trum janjikan pada Netanyahu perdana menteri Israel?

Presiden AS dari Partai Republik, Donald Trump kembali mengeluarkan pernyataan kontroversial. Dia mengatakan kepada Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, jika terpilih, Amerika Serikat akan mengakui Al-Quds (Yerusalem) sebagai ibukota Israel, pada Ahad (25/9).

Dalam pertemuannya dengan Netanyahu di Trump Tower di New York, Trump mengatakan bahwa Amerika Serikat di bawah pemerintahannya akan mengakui Al Quds sebagai “ibukota bersatu Israel.”

Sementara itu, Israel sejak lama menganggap Al-Quds ibukota Israel. Akan tetapi, hanya beberapa negara yang mengkuinya. Negera-negara yang tak mengakui masih menempatkan kantor kedutaan di Tel Aviv.

Janji Trum ini langsung mendapat peringatan dari Syeikh Mohammed Hussein, Mufti Agung Al-Quds. Ia memperingatkan bahaya dari langkah AS yang akan mengakui Al-Quds sebagai ibu kota Israel.

Pernyataan ini diungkapkan Husein dalam konferensi pers, Ahad (3/12/2017). Husein mengatakan, ada kabar pemerintah AS bermaksud memindahkan kedutaannya dari Tel Aviv ke Al-Quds dan mengakuinya sebagai ibu kota Israel. Jika ini terjadi maka bukan hanya penganiayaan terhadap bangsa Palestina sendiri, tetapi juga secara terang-terangan telah melukai bangsa Arab dan Muslim di seluruh dunia.

Syeikh menekankan, undang-undang untuk memindahkan kedutaan AS ke Al-Quds adalah ilegal dan melanggar konvensi dan perjanjian internasional yang menganggap Al-Quds sebagai wilayah jajahan. Ia juga menekankan, tindakan ini tidak akan menghasilkan perdamaian dan keamanan di wilayah tersebut, sebaliknya akan membawanya pada peperangan, kekacauan dan ketidakstabilan.

Ia juga menambahkan, warga Al-Quds, bangsa Palestina, Arab dan semua Muslim tidak akan menerima langkah ini. Mereka akan melakukan apapun yang berharga untuk membela tanah airnya.

“AS berusaha menyingkirkan Palestina dalam keputusanya kemarin, sebaliknya tidak memperpanjang perpanjangan kelanjutan kantor PLO di Washington. Dia menunjukkan bahwa bencana di darat dan orang-orang Palestina terus berlanjut, dari Deklarasi Balfour yang telah membuat tanah jajahan dengan dinding apartheidnya, permukiman yang menelan tanah dan populasi yang tidak bersenjata yang menyebabkan malapetaka, memindahkan kedutaan besar AS ke Al-Quds dan mengakuinya sebagai ibu kota Israel,” demikian Syeikh Mohammed Hussein.

Sumber: Kiblat dan Palestineupdate